"Arah kebijakan ekonomi AS masih belum dianggap pasti. Tidak hanya arahnya tetapi juga dampaknya terhadap perekonomian dunia," tutur Sri Mulyani saat menghadiri Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Gedung DPR, Rabu (18/1).
Menurut Sri Mulyani, dari sisi fiskal, pemerintah perlu mencermati kebijakan pajak dan belanja Trump yang akan mendongkrak perekonomian domestik AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini akan sangat banyak mempengaruhi, tidak hanya ekonomi AS tetapi juga ekonomi dunia, karena aliran modal keluar dari AS merupakan sumber pertumbuhan ekonomi dunia dan pasar AS merupakan salah satu sumber pertumbuhan dari banyak negara berkembang," ujarnya.
Hal itu dipicu oleh kondisi lapangan kerja penuh (full-empolyment) dan ekspektasi akselerasi pertumbuhan ekonomi AS yang akan memicu inflasi.
Kebijakan itu pada akhirnya akan mempengaruhi pola penempatan modal pelaku pasar yang cenderung mencari imbal hasil terbesar.
"Kami melihat ini sebagai suatu faktor yang harus kami antisipasi dan kami kelola secara hati-hati,"ujarnya.
Sri Mulyani mengungkapkan, lembaga-lembaga internasional masih optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Secara konsensus, tahun ini pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan menyentuh 3,4 persen atau lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun lalu 3,1 persen.
Secara umum, Sri Mulyani tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa mencapai target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 5,1 persen. Hal itu didukung oleh komitmen pemerintah untuk terus menjaga agar APBN menjadi instrumen untuk mengelola pembangunan secara kredibel, efektif dan efisien.
"Saya rasa cukup baik dari kita untuk hati-hati. Namun bukan berarti kami tidak optimistis. Kami optimistis namun hati-hati," ujarnya.