Selain berfungsi sebagai kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), kartu pintar (smartcard) Kartin1 itu juga mengintegrasikan data Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), hingga uang elektronik (e-money).
Direktur Mandiri Hery Gunardi mengungkapkan, Bank Mandiri akan menyediakan platform atau basis kartu untuk aplikasi DJP tersebut. Sebagai tahap awal, chip kartu tersebut diintegrasikan dengan chip kartu produk uang elektronik Mandiri, eMoney.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hery, melalui kerjasama ini Bank Mandiri akan mendapatkan dua keuntungan. Pertama, Bank Mandiri bisa membantu program pemerintah selain program pajak juga program Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).
Namun demikian, untuk tahap awal, Hery belum bisa mengungkapkan berapa banyak lembar kartu yang disiapkan Mandiri.
Sebelumnya, Direktur Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi DJP Iwan Djuniardi menyatakan, prototype aplikasi Kartin1 direncanakan rampung pada Maret 2017. Uji coba pertama (pilot project) sendiri ditargetkan bisa dilakukan pada paruh pertama tahun ini.
Tak hanya Bank Mandiri, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan membuka peluang sinergi dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Keuangan) terkait kartu pajak multi konten, Kartu Indonesia 1 (Kartin1).
"Kami siap untuk terbuka, kerjasama dengan siapapun, termasuk dengan pajak. Biar sinkron datanya antara wajib pajak dengan peserta BPJS Kesehatan," tutur Kepala Departemen Komunikasi Eksternal dan Humas BPJS Kesehatan Irfan Humaidi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/1).
"Rencana memang ada tapi belum ada pembicaraan mendetil," ujarnya.
Sebenarnya, kata Irfan, BPJS Kesehatan sudah mulai terintegrasi dengan data Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang sudah dicatat oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) peserta terkait. Terutama, untuk peserta yang daftar mandiri maupun pekerja penerima upah.