"Tahun ini efisiensi kami targetkan US$200 juta-an," tutur Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Wibowo saat ditemui di kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Selasa (24/1).
Arif mengungkapkan efisiensi dilakukan dengan menekan biaya terkait armada (fleet cost) dan biaya tambahan (overhead cost).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait overhead cost, korporasi juga berencana melakukan integrasi sistem kargo antar anak perusahaan yaitu Garuda Indonesia dengan Citilink. Kemudian, kedua maskapai juga akan melakukan optimalisasi sistem operasi.
Lebih lanjut, tahun ini, korporasi menargetkan kapasitas produksi bisa tumbuh 8,7 persen. Beberapa pasar yang diniliai Arif bisa tumbuh double digit, di antaranya pasar Timur Tengah, China, dan Wilayah Indonesia Timur.
"Kami harapkan memang di tahun 2017, traffic penumpang Garuda dan Citilink bisa meningkat. Mudah-mudahan Garuda dan Citilitink bisa tembus 40 juta penumpang," ujarnya. (gir/gen)