Direktur Pengolahan Pertamina Toharso mengatakan, gangguan operasi dipicu oleh permasalahan teknis kilang yang dilatarbelakangi oleh usia kilang yang sudah tua dan kurang disiplinnya Pertamina dalam melakukan perawatan.
"Contohnya kerusakan kilang di Balikpapan, kilangnya memang dibangun sejak 1948. Kemudian, seharusnya yang di Balikpapan itu turn around (perawatan) setahun yang lalu," ungkap Tuharso di kantornya, Selasa (24/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kilang Unit I yang memiliki kapasitas olah sekitar 60 ribu barel per hari (bph) terpaksa terhenti selama satu minggu. Sedangkan kilang Unit II yang berkapasitas 200 ribu bph berhenti beroperasi selama satu hari.
Pasalnya, kata Toharso, perusahaan pelat merah ini masih memiliki cadangan BBM yang dapat digunakan untuk menutup sebagian potensi produksi yang hilang akibat gangguan operasi kilang.
Selain itu, langkah impor BBM dalam jumlah besar juga tak bisa dilakukan Pertamina. Sebab, perusahaan sangat menimbang dampak dari impor besar tersebut terhadap pasar dunia.
Permintaan impor yang cukup besar secara langsung dikhawatirkan membuat harga minyak di pasar dunia mengalami kenaikan yang drastis sehingga Pertamina mengatur skema impor secara bertahap.
"Kita masih memiliki cadangan BBM selama 20 hari sehingga kita maksimalkan. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi gejolak harga di pasar ketika kita kekurangan pasokan BBM," jelasnya.
Namun, Toharso tak menampik bahwa Pertamina tetap akan melakukan impor. Hanya saja, impor ini memang telah direncanakan perusahaan untuk jangka waktu satu tahun, dilakukan bertahap, dan menyesuaikan kebutuhan.
Disiplin Perawatan
Berkaca pada pengalaman ini, Toharso menyebutkan bahwa Pertamina akan meningkatkan kedisiplinannya dalam melakukan perawatan kilang. Pertamina menjadwalkan melakukan perawatan pada kilang Balikpapan pada April 2017 mendatang.
Untuk perawatan kilang, Pertamina menjadwalkan akan melakukannya secara bergantian untuk tiap-tiap kilang. Adapun waktu perawatan dilakukan bergantian agar kegiatan produksi kilang tetap berjalan dan hasil produksi tak menyusut secara drastis.
Selain itu, Pertamina juga akan melakukan antisipasi gangguan operasional lainnya. Pertama, memastikan tak ada dampak fatal dari gangguan operasi kilang. Kedua, inspeksi kilang.
Ketiga, efisiensi dalam operasi. Keempat, optimalisasi infrastruktur yang dimiliki. Kelima, berkomunikasi dengan organisasi dan unit Sumber Daya Manusia (SDM) perseroan terkait teknis-teknis pengoperasian dan perawatan kilang. (gen)