"Kalau kita lihat sekarang, ada kemungkinan harga rata-ratanya antara US$45 sampai US$50 per barel. Potensi itu ada," tutur Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara saat ditemui di Gedung Thamrin Bank Indonesia (BI), Rabu (25/1).
Menurut Suahasil, potensi kenaikan itu dipicu oleh tren kenaikan harga minyak dunia. Salah satu faktornya berasal dari rencana negara-negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk memangkas produksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, kenaikan ICP juga berpotensi mendongkrak harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di masyarakat. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada laju inflasi.
Sementara, BI memperkirakan tahun ini harga minyak mentah bisa menembus level US$47 per barel setelah akhir tahun lalu menyentuh level US$45 per barel, di atas proyeksi bank sentral yang semula sebesar US$40 per barel.
Harga Brent LCOc1 berjangka meningkat US$0,21 per barel ke angka US$55,44 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) CLc1 meningkat US$0,43 per barel ke angka US$53,18 per barel.
Proyeksi target asumsi makro yang meleset dalam APBN 2017, sebelumnya diyakini Suahasil Nazara bakal terjadi pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Dalam APBN 2017, pemerintah mematok target nilai tukar Rp13.300 per dolar. Namun Suahasil memperkirakan akan terjadi depresiasi rupiah antara 1-2 persen akibat penguatan dolar yang dipicu sentimen perbaikan ekonomi AS pasca dipimpin oleh Presiden Donald J. Trump. (gen)