Peran domestic saving dalam memacu laju ekonomi bisa tercermin melalui penyaluran kredit oleh perbankan.
"Sumber investasi kan bisa dari sisi domestic saving dan di Indonesia kan memiliki level simpanan domestik yang cukup tinggi. Selama ini kan diterjemahkan dalam bentuk pertumbuhan kredit perbankan," tutur Sri Mulyani saat menghadiri CIMB Niaga Economic Forum 2017, Kamis (26/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian Sri Mulyani menyadari, pertumbuhan kredit perbankan mengalami perlambatan dalam tiga tahun terakhir. Hal itu disubstitusi oleh Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), dan penerbitan obligasi korporasi.
"Kita melihat kesempatan itu [peningkatan pertumbuhan kredit] muncul dengan adanya tren harga komoditas yang tidak terus memburuk. Kemudian, volume perdagangan internasional juga sudah mulai naik," ujarnya.
"Kami juga akan terus menjaga sisi kebijakan agar mereka (investor) memiliki persepsi terhadap risiko lebih baik sehingga mereka tidak menciptakan yield yang terlalu tinggi," ujarnya.
Sebagai informasi, laporan Bank Dunia yang bertajuk "Global Economic Prospects Weak Investment in Uncertain Times' mencatat tren penurunan investasi global, termasuk negara berkembang.
Di Asia Timur dan Pasifk, pertumbuhan inflasi terus menurun dari 12,1 persen pada 2010 menjadi 6,5 persen secara rata-rata. Padahal, selama periode 2003-2008, pertumbuhan investasi bisa mencapai dua digit. (gen)