Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Rachmad Hardadi mengungkapkan, pembatalan kerja sama ini menyusul tak adanya titik temu perihal target penyelesaian kedua proyek tersebut antara kedua perusahaan.
Padahal, sebelumnya, kedua perusahaan telah sepakat membentuk perusahaan bersama atau patungan (Joint Venture/JV) untuk mempercepat penyelesaian proyek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk diketahui, seharusnya Pertamina-Saudi Aramco melakukan penandatangan kesepakatan (Head of Agreement/HoA) pada 26 November 2016 lalu. Namun, keduanya memundurkan waktu pelaksanaan HoA hingga 31 Desember 2016.
Tak kunjung ada titik temu, Pertamina membatalkan proyek berkonsep RDMP kedua kilang yang ditargetkan dapat meningkatkan kapasitas terpasang kilang Pertamina dari 5,4 juta barel ke 18 juta barel.
Cilacap Jalan Terus
Namun begitu, Hardadi memastikan, kerja sama Pertamina-Saudi Aramco tetap terjalin untuk proyek RDMP kilang Cilacap di Jawa Tengah. Bahkan, keduanya sepakat menyelesaikan proyek setahun lebih cepat dari target awal di 2022.
"Jadi, kerja sama dengan Aramco hanya kilang Cilacap saja, sudah ada komitmen kuat dari Saudi Aramco untuk mempercepat kilang Cilacap ke 2021," imbuh Hardadi.
Untuk percepatan RDMP kilang Cilacap, keduanya menargetkan pembangunan dapat dimulai sejak 2018 mendatang dan rampung dalam tiga tahun ke depan.
Perusahaan patungan baru bisa terbentuk setelah kedua perusahaan menyelesaikan kelayakan finansial (Bankable Feasibility Study/BFS) dan Basic Engineering Design (BED) yang rencananya juga akan selesai Februari mendatang. Pasalnya, eksekusi proyek ini tergantung dari kaijan kecakapan teknis dan finansial melihat hasil proses BED dan BFS.
Jika rampung, kapasitas kilang Cilacap akan meningkat dari 348 ribu barel menjadi 400 ribu barel. Selain itu, produksi gasoline akan meningkat 80 ribu barel, diesel sebesar 60 ribu barel, dan bahan bakar jet sebesar 40 ribu barel. (gen)