President and General Manager Total E&P Indonesie Arividya Noviyanto mengatakan, pembahasan mengenai hak partisipasi akan dilakukan pasca masa transisi pengelolaan selesai. Menurutnya, pelaksanaan masa transisi ini lebih penting agar produksi blok Mahakam tidak menurun.
Menurut data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), produksi minyak blok Mahakam hingga akhir tahun lalu tercatat 64.288 barel per hari. Sementara itu, produksi gas tercatat sebesar 1.722 MMSCFD di periode yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, ia mengatakan bahwa Total masih tetap berkomitmen investasi di blok Mahakam hingga kuartal I 2017. Sesuai rencana, perusahaan akan mengebor enam sumur pada bulan Maret mendatang. Sedangkan Pertamina sendiri akan mengebor 19 sumur.
"Tetap, kami akan mengebor enam sumur. Setelah itu, 19 sumur lainnya akan dibor Pertamina. Bagi kami, lebih penting menjaga masa transisi agar produksi Mahakam tidak anjlok," ujarnya.
Sebagai informasi, Total mulai mengelola blok Mahakam sejak tahun 1968 dan bermitra dengan Inpex dengan hak partisipasi masing-masing sebesar 50 persen.
Setelah masa kontrak habis di tahun 2017, Pertamina akan berperan selaku operator baru Blok Mahakam dengan kepemilikan 100 persen. Dalam hal ini, Pertamina bisa memberi hak partisipasi minoritas dengan nilai maksimal 30 persen kepada Total dan Inpex sesuai dengan syarat dan ketentuan (Terms and Condition/T&C) pengelolaan Wilayah Kerja (WK) Mahakam pasca 2017. (gen)