Keputusan tersebut membuat jumlah direksi Pertamina berkurang dari sembilan menjadi delapan direktur.
Komisaris Utama Pertamina Tanri Abeng mengatakan, keputusan ini diambil demi penyegaran organisasi Pertamina. Apalagi, dewan komisaris merasa tidak diperlukan lagi tambahan sumber daya manusia untuk mengurus lini bisnis hilir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, ia memahami jika perusahaan dengan lini bisnis kompleks seperti Pertamina membutuhkan SDM yang mumpuni. Namun, dengn pengerecutan jumlah direksi, ia yakin manajemen Pertamina bisa lebih baik dalam mengambil keputusan.
Kendati mengubah nomenklatur, Tanri memastikan bahwa proyek Pertamina masih tetap jalan sesuai jadwal.
"Proyek tetap jalan terus karena sistem dibawahnya sudah ada," katanya.
Namun nyatanya, terjadi dualisme figur kepemimpinan di Pertamina, sehingga banyak pengambilan keputusan yang terlambat.
"Di BUMN lain, Wadirut itu settle down membantu Direktur Utama di dalam. Nah ini yang tidak terjadi. Karena leadership yang di Pertamina yang belum bisa tercipta," jelasnya.
Di samping itu, Tanri mengatakan tak menutup kemungkinan jumlah direksi Pertamina menjadi sembilan lagi. Hanya saja, nama posisi baru tersebut tak akan lagi disebut sebagai Wadirut.
"Kami harapkan masih ada sembilan direksi. Mungkin bukan Wadirut, kan sebenarnya bisa saja Chief Operating Officer (COO)," lanjut Tanri. (gen)