Dilansir dari situs resmi Pertamina, Yenni lahir pada tanggal 24 Maret 1965. Ia merupakan lulusan Sarjana Hukum dari Universitas Parahyangan tahun 1988.
Terakhir ia menjabat sebagai Direktur Energi Baru dan Terbarukan PT Pertamina (Persero) pada 28 November 2014 sampai sekarang berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No.SK 265/MBU/11/2014 tanggal 28 November 2014 dan SK No.Kpts-051/ C00000/2014-S0 tentang Tugas dan Wewenang Direksi dan Perubahan Garis Lapor Organisasi PT Pertamina (Persero).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia adalah satu-satunya direktur wanita Pertamina saat ini, serta berpengalaman sebagai Komisaris Utama PT Nusantara Regas. Selain itu, sebelum masuk menjadi BPS Pertamina Pemasaran Luar Negeri, sosok yang pernah berkesempatan magang di perusahaan ternama di Washington DC itu sempat mendaftar kerja di Kompas sebagai jurnalis dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
“Mungkin situasi yang memaksa saya untuk lebih berkembang. Terutama sejak masuk di Pertamina, opportunity begitu besar. Karena itu, saya seperti mendapatkan situasi yang extraordinary. Kondisi inilah menantang saya untuk berkembang lebih cepat,” kata Yenni.
Kini, setelah didaulat negara untuk memimpin Pertamina, Yenni Andayani meyakini perombakan jabatan Dewan Direksi perseroan tidak akan mengganggu kinerja perseroan.
"Tidak [mengganggu kinerja]. Semua sistem sudah ditetapkan. Rencana kerja juga sudah ditetapkan. Masing masing direksi sudah mengetahuinya," tutur Yenni usai menghadiri konferensi pers di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jumat (3/2).
Selain menjabat sebagai Plt. Dirut, Yenni juga tetap menjalankan tugasnya sebagai Direktur Gas dan Energi Baru Terbarukan perusahaan energi nomor satu di Indonesia itu.
"Amanatnya sudah jelas. Saya tugasnya mengisi jabatan strategis dan menjaga solidaritas," jelasnya. (gir)