Deputi CEO UangTeman Rio Quiserto mengatakan, bisnis pinjam meminjam dengan skala mikro di Indonesia memang memiliki risiko yang cukup tinggi. Terlebih, UangTeman menawarkan pinjaman kepada nasabah tanpa harus menyertakan jaminan atau agunan.
Tercatat, sejak beroperasi April 2015 lalu hingga kini, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) UangTeman telah mencapai 3 persen atau setara dengan NPL industri perbankan tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itu, selayaknya perbankan, perusahaan juga harus menyisihkan sejumlah dana tersebut untuk menjaga kualitas pembiayaan apablia ada nasabah yang tidak sanggup melunasi pinjamannya.
Khusus tahun ini, UangTeman menargetkan rasio NPL UangTeman bisa ditekan di bawah level 3 persen. Untuk mencapai target tersebut, UangTeman akan menyeleksi nasabah lebih ketat pada tahap awal.
"Karena dengan seleksi yang ketat di awal itu akan mengurangi beban kita unutk nasabah yang tidak membayar," ujar Rio.
Dari segi teknologi, perusahaan menerapkan teknologi algoritma yang mengedepankan kecepatan dan kredit scoring sehingga setiap aplikasi yang masuk dapat dengan mudah membaca karakter para calon nasabah sebelum menerima pinjaman.
"Pefindo akan membantu memberikan validasi data dan credit scoring nasabah sebelum aplikasi pembiayaannya kami terima," ujar Aidil.
Sebagai informasi, UangTeman telah membukukan pertumbuhan pembiayaan cukup signifikan selama tahun 2016. Sepanjang tahun lalu anak usaha dari perusahaan Singapura itu telah mencatatkan total pembiayaan hingga Rp35 miliar per akhir Desember 2016. Tahun ini perusahaan menargetkan mampu mengucurkan pinjaman hingga Rp100 miliar. (gir)