Meski tidak menyebut nama BUMN yang dimaksud, namun Rini menyebut pendanaan proyek LRT akan dilakukan oleh BUMN tersebut dengan menerbitkan instrumen investasi. Pasalnya, anggaran yang dimiliki pemerintah tidak mencukupi untuk mendanai proyek tersebut secara langsung. Pemerintah menurut Rini hanya akan melakukan penjaminan dari instrumen investasi yang dikeluarkan oleh Adhi Karya atau BUMN lainnya demi proyek tersebut.
"Kami sedang melihat karena kami akan package memanfaatkan penjaminan pemerintah, atau sebagian bisa mendapatkan dukungan APBN tapi mungkin publik service obligation (PSO) nya," ungkap Rini, Rabu (8/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Termasuk sukuk, jadi nanti BUMN yang akan keluarkan instrumennya," imbuh dia.
"Belum, nanti kami selesaikan dua hari lagi," jelas dia.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meminta Adhi Karya untuk ikut menyuntik modal untuk proyek LRT. Dengan kata lain, Adhi Karya diminta agar tidak hanya menjadi kontraktor tetapi juga menjadi investor.
Untuk diketahui, proyek LRT membutuhkan dana senilai Rp23 triliun. Hingga saat ini, proses kemajuan dari proyek tersebut baru mencapai 12 persen. Meski begitu, Rini menegaskan, pihaknya optimis LRT Jabedek dapat selesai pada 2019.
"Yang pasti kami akan selesaikan tepat waktu," tegas Rini.