Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Pertamina Yenni Andayani mengatakan, capaian laba ini diperoleh berkat efisiensi yang dilakukan perusahaan sepanjang tahun 2016. Angka ini terlihat dari penurunan biaya operasional yang turun 19,97 persen dari angka US$37,84 miliar di tahun 2015 ke angka US$30,28 miliar.
"Penekanan biaya dikakukan secara signifikan dibanding tahun 2014 dan 2015. Kali ini, konsekuensi laba operasi menjadi baik. Tapi kami ingatkan, ini masih dalam bentuk laporan yang belum diaudit (unaudited report)," jelas Yenni di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (9/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Yenni, penurunan ini merupakan imbas dari lemahnya harga minyak dunia yang mempengaruhi sisi hulu migas perusahaan. Sebagai informasi, harga minyak mentah Indoensia (Indonesian Crude Price/ICP) sempat menyentuh angka US$27,49 per barel pada awal tahun 2016 dan merangsek naik ke kisaran US$51.09 per barel di bulan Desember.
Kendati demikian, pendapatan operasional dari sisi hulu hanya sebesar 28 persen dari total pendapatan perusahaan. Sebagian besar pendapatan perusahaan terletak di sisi hilir migas dengan kontribusi 72 persen. Namun, pendapatan usaha di sisi hilir tertolong akibat peningkatan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dari 58,03 juta kilo liter (kl) di tahun 2015 menuju 62,89 juta kl di tahun lalu.
"Kami lihat effort di tim pemasaran cukup kuat. Tapi, bukan berarti kami ada pemaksaan pengurangan Premium. Ini karena kinerja tim pemasaran yang sangat gencar," terang Yenni. (gen)