Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan, pencapaian laba tersebut diperoleh berkat usaha perseroan dalam mengendalikan nisbah kupas (striping ratio/SR), jarak angkut di lokasi tambang dan optimalisasi perencanaan tambang.
"Khususnya dari sisi operasional penambangan pada supply chain system dengan melakukan efisiensi di semua lini," ujar Arviyan dalam konferensi pers, Rabu (15/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peningkatan penjualan ini karena adanya peningkatan produksi dan angkutan kereta api batu bara tahun yang lalu yang mulai meningkat sebesar 12 persen jadi 17,7 juta ton dibanding tahun sebelumnya sebesar 15,8 juta ton," ujarnya.
Terkait penurunan laba, Arviyan menjelaskan, sepanjang tahun lalu indeks harga batu bara belum sebaik tahun 2015. Hal ini terlihat dari rata-rata harga tertimbang batu bara perseroan yang turun sebesar 4,4 persen atau menjadi Rp676.013 per ton dibanding tahun 2015 yang sempat mencapai Rp707.052 per ton.
"Meskipun demikian kami masih bisa memperoleh pendapatan sebesar Rp14,06 triliun naik dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp13,85 triliun," ujarnya.
Khusus untuk tahun ini, perseroan menargetkan penjualan mencapai 27,3 ton atau 30 persen lebih tinggi dari realisasi tahun 2016 yang sebesar 20,76 ton. Dari total tersebut, nantinya sebanyak 15,9 juta ton akan dijual untuk memenuhi permintaan domestik dan 11,4 juta ton akan diekspor,
Untuk mendukung peningkatan penjualan dan produksi itu, Bukit Asam merencanakan produksi dan pembelian batubara sebesar 27,1 juta ton atau naik 30 persen dari realisasi sebesar 20,8 juta ton.
"PT Kereta Api Indonesia sudah komitmen untuk mengangkut batu bara kita dari lokasi tambang sebesar 21,7 juta ton atau naik 22 persen dari tahun lalu, dengan masing-masing 18 juta ton menuju Pelabuhan Tarahan di Bandar Lampung dan 3,7 juta ton menuju Dermaga Kertapati di Palembang," jelasnya.