Ekonom Bahana Sekuritas Fakhrul Fulvian beralasan, inflasi di dalam negeri diperkirakan masih akan berada dalam target BI antara 3 - 5 persen sepanjang tahun ini. Meski pemerintah masih melanjutkan rencana kenaikan tarif listrik
“Kenaikan suku bunga the Fed kali ini tidak akan terlalu membahayakan pasar dan perekonomian negara-negara berkembang termasuk Indonesia,” kata Fakhrul, Kamis (16/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, tercermin dari stabilnya nilai tukar, perbaikan neraca perdagangan dan perekonomian yang diperkirakan belum akan tumbuh signifikan pada kuartal pertama.
Untuk mendorong perbankan lebih agresif menyalurkan kredit, menurutnya BI sudah bisa mengeluarkan aturan yang lebih detail terkait rencana pembayaran Giro Wajib Minimum (GWM) secara rata-rata. Atau secara teknikal disebut averaging GWM, sehingga bank lebih fleksibel dalam mengatur likuiditasnya.
Dengan lebih aktifnya perbankan dalam menyalurkan kredit, tentunya akan menjadi pendorong bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menurut BI masih bisa bertumbuh antara 5 - 5,4 persen untuk sepanjang tahun ini.
"Estimasi ini sesuai dengan perkiraan Bahana yang sebelumnya sudah memperkirakan ekonomi akan tumbuh sebesar 5,4 persen pada 2017," pungkasnya.