Amirullah, Vice President Freeport Bidang Security and Risk Management, mengatakan perusahaan tempatnya bekerja menempuh kebijakan efisiensi dengan cara merumahkan sebagian pekerjanya. Kebijakan itu diambil setelah pemerintah menutup keran ekspor konsentrat ke luar negeri.
"Total sampai hari ini jumlah karyawan yang dirumahkan dan di-PHK sebanyak 3.340 orang," jelas Amirullah di Timika, dikutip dari kantor berita Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, sejak 8 Maret 2017, Freeport menyiasati larangan ekspor konsentrat dengan mengirim bahan baku mentah tersebut ke pabrik smelter di PT Smelting Gresik, Jawa Timur. Ia menyatakan, Freeport kini hanya bisa memasok 40 persen konsentrat ke smelter di Gresik.
Sementara itu jajaran Papua Affairs Department (PAD) yang khusus mengurus karyawan asli Papua yang bekerja di Freeport kini mulai melakukan sosialisasi ke isteri-isteri karyawan asli Papua tentang situasi dan kondisi yang dihadapi perusahaan tambang Amerika Serikat.
Senior Manajer PAD Freeport Soleman Faluk mengatakan isteri-isteri karyawan asli Papua yang bekerja di perusahaan harus siap mental jika sewaktu-waktu suami mereka terpaksa menerima kebijakan dirumahkan sebagai imbas dari situasi yang kini dihadapi Freeport.
Selama ini Freeport menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 32.608 orang dan tenaga kerja asing 844 orang. Dari total 33.452 tenaga kerja tersebut, sebanyak 12.184 orang merupakan karyawan Freeport dan 21.286 lainnya pekerja kontraktor.
Lalu, dari total 33.452 pekerja itu, orang asli Papua mencapai 8.413 orang atau 25,15 persen dan pekerja Indonesia non-Papua sejumlah 24.195 orang atau 72,33 persen.