Bagi-bagi Dividen, Harga Saham Emiten Perbankan 'Naik Daun'

Dinda Audriene , CNN Indonesia | Jumat, 17/03/2017 20:02 WIB
Bagi-bagi Dividen, Harga Saham Emiten Perbankan 'Naik Daun' Bank Mandiri membagikan dividen 45 persen dari laba bersih, BNI sebesar 35 persen dan BRI sebanyak 40 persen. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga saham tiga emiten perbankan terdongkrak, setelah aksi bagi-bagi dividen kepada pemegang saham. Mereka adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Rata-rata dividen yang dibagikan bank-bank pelat merah itu meningkat pada tahun buku 2016 ketimbang tahun sebelumnya. Bank Mandiri, misalnya, tercatat memberikan dividen sebanyak 45 persen dari total perolehan laba bersihnya atau sebesar Rp6,21 triliun. Total laba bersih emiten dengan kode BMRI itu Rp13,8 triliun per 2016.

Padahal, kalau boleh dibilang, tahun lalu bukan tahun keberuntungan bank berpita kuning tersebut. Labanya anjlok sampai 32,1 persen. Namun, jika diteliti lebih jauh, sebetulnya dividen yang disebar Bank Mandiri pada tahun buku 2015 juga sebesar Rp6,1 triliun. Artinya, secara nilai, tidak terpaut jauh dengan jumlah dividen tahun ini.

Tak mau ketinggalan, BNI juga membagikan dividen sebesar Rp3,96 triliun atau sebanyak 35 persen dari total laba bersihnya tahun ini. Jumlah itu naik ketimbang tahun buku 2015, dimana setoran dividen BNI Rp2,26 triliun atau 25 persen dari laba bersihnya.

Sementara itu, BRI menyetor dividen sebanyak 40 persen dari laba bersihnya tahun lalu atau senilai Rp10,47 triliun. Tahun buku 2015, dividen yang dibagikan hanya 30 persen atau sebesar Rp7,6 triliun.

Aksi bagi-bagi dividen itu sedikit banyak mendongkrak harga saham ketiga emiten bank BUMN itu. Hari ini, Jumat (17/3), harga saham Bank Mandiri ditutup positif Rp11.625 per saham atau naik 50 poin (0,43 persen).

Harga saham BRI malah melonjak drastis 475 poin atau 3,79 persen ke level Rp13 ribu, sedangkan harga saham BNI menguat 100 poin (1,52 persen) ke posisi Rp6.700 per saham.

Rasio Kecukupan Modal Turun

Kendati harga sahamnya terdongkrak aksi bagi-bagi dividen, namun rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank-bank BUMN itu mulai turun. CAR Bank Mandiri tercatat turun dari sebelumnya 21 persen menjadi 19,5 persen.

Direktur Utama BNI Ahmad Baiquni menampik disebut peningkatan dividen mengganggu rasio kecukupan modal inti perseroan. Menurutnya, CAR BNI yang sebesar 18,5 persen masih terbilang cukup kuat.

Ekonom Bank Permata Josua Parede menilai, rentang pembagian dividen yang patut dibagikan sebaiknya berkisar 15 persen-30 persen dari laba bersih. Bergantung tingkat likudiditas bank itu sendiri.

"Kalau bank itu cukup ketat likuiditasnya, kalau bisa pemberian dividen lebih kecil. Rentangnya jangan tinggi, tetapi kalau likuiditas bank itu tidak ketat bisa lebih tinggi," kata Josua, Jumat (17/3).

Menurutnya, pemberian dividen dengan persentase yang tinggi tidak masalah jika dilakukan oleh bank buku III dan IV. Sementara, pemberian dividen dalam jumlah besar tidak disarankan untuk bank buku I hingga II.

"Nah, umumnya untuk bank pelat merah profitabilitas mereka besar untuk memberikan dividen besar karena dari sisi pertumbuhan kredit juga bagus dari bank golongan I atau II," imbuh dia.

Harga saham emiten perbankan pun, lanjut Josua, ikut melonjak dengan musim pemberian dividen ini. Namun, pelaku pasar tentu perlu juga melihat fundamental dari masing-masing perbankan.

"Tapi juga harus diperhatikan kredit bagaimana, NPL bagaimana, itu juga jadi faktor untuk pelaku pasar," tuturJosua.

Bank Indonesia (BI) menyebut akan mendorong aturan pemberian dividen oleh perbankan demi menjaga CAR. Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyatakan, aturan akan dikeluarkan oleh regulator Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurutnya, selain dilihat dari rasio kecukupan modal, nantinya rasio kredit bermasalah (noan performing loan) juga menjadi salah satu faktor penentuan jumlah pembagian dividen.

"Jadi, kalau bank-bank yang NPL relatif tinggi dan kecukupan modalnya lebih rendah dari nasional, kemudian pencadangannya relatif kurang ya tentu sebaiknya jangan memiliki rasio dividen terlalu tinggi," tegas dia.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Memerah BUMN, Menambal APBN