Pasalnya, S&P terbilang pelit dalam memberikan rating. Faisal mencontohkan, tahun lalu S&P batal memberikan rating layak investasi kepada Indonesia meski pemerintah telah menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM).
"Dulu S&P bilang akan naikan rating kalau subsidi BBM dicabut. Jangan terlalu berharap rating akan dinaikan. Rating kita sudah cukup bagus," ucap Faisal, Kamis (23/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, tingkat volatilitas laju IHSG dan nilai tukar rupiah terbilang stabil. Selain itu, kondisi politik yang terbilang aman juga menjadi sentimen positif bagi investor untuk masuk ke Indonesia.
Faisal menilai, Indonesia masih jauh lebih aman jika dibandingkan dengan Inggris terkait peristiwa penembakan di dekat gedung Parlemen Inggris, di kota London.
"Jadi risiko politik kita rendah, investor tetap masuk. Habib Rizieq teriak-teriak demo, nggak ada apa-apanya dengan kasus penembakan di Inggris, tidak ada bahaya di bawah tanah," papar Faisal.
Untuk diketahui, lembaga Fitch Rating dan Moody's telah memberikan rating layak investasi kepada Indonesia.
Pekan ini, perwakilan S&P bertemu dengan sejumlah menteri kabinet Presiden Joko Widodo. Nantinya, hasil penilaian dari S&P sendiri baru akan keluar pada Mei mendatang.