Berdasarkan data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi saat ini persentase penduduk di pedesaan masih 50,2 persen dari total penduduk di Indonesia. Namun pada 2025 nanti diproyeksi turun menjadi 33,4 persen.
Angelina Ika Rahutami Peneliti dan Dosen Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata menyebut, kondisi tersebut menimbulkan masalah bagi sektor pertanian Indonesia, dimana mayoritas pekerja di sektor pertanian akan diisi oleh orang tua. Kondisi tersebut akan menyulitkan adanya inovasi teknologi di sektor pernah berkontribusi besar terhadap PDB Indonesia itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ika menjelaskan, saat ini di daerah perdesaan tengah terjadi mobilisasi tenaga kerja produktif dan terdidik dari wilayah desa ke kota atau yang biasa disebut brain drain. Keadaan itu memunculkan prediksi hingga 2035 jumlah penduduk perdesaan menurun sebanyak 0,64 persen per tahun.
Menurutnya perlu ada kebijakan pemerintah untuk mendorong tenaga kerja muda agar mau bergelut di bidang pertanian, khususnya di desa. Pendidikan vokasi khusus pertanian, dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan minat penduduk usia muda untuk terjun ke desa dan membangun sektor tersebut.
Pasalnya, saat ini pendidikan vokasi tidak didesain dengan begituu bagus. Ia mencontohkan banyak kabupaten maupun daerah yang memiliki potensi di bidang pertanian namun tidak memiliki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang spesialis di bidang pertanian.
Pada kesempatan yang sama Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyebut, kebutuhan pangan dunia akan terus meningkat setiap tahunnya. Isu penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian menambah rentetan masalah dalam sektor pangan di samping masalah kekurangan lahan.
Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia pada tahun 2050 nanti, output produksi pangan harus ditingkatkan hingga dua kali lipat. Sementara Total Factor Production (TFP) Food terindikasi sulit memenuhi target 2050.
"Secara global 2050 kebutuhan pangan akan dua kali lipat dari kebutuhan saat ini, sementaara perekonomian di low income country hanya tumbuh 1-1,2 persen, artinya akan ada gangguan produksi secara global di beberapa negara akibat alih fungsi lahan," jelasnya.