Lahan Pertanian di Indonesia Makin Tak Menarik Bagi Pekerja

Elisa Valenta Sari | CNN Indonesia
Jumat, 31 Mar 2017 00:31 WIB
Mulai 2025, persentase jumlah penduduk di pedesaan yang bersedia menggarap lahan pertanian hanya 33,4 persen dibandingkan saat ini 50,2 persen. Mulai 2025, persentase jumlah penduduk di pedesaan yang bersedia menggarap lahan pertanian hanya 33,4 persen dibandingkan saat ini 50,2 persen. (ANTARAFOTO/Maulana Surya)
Semarang, CNN Indonesia -- Urbanisasi penduduk desa ke kota semakin meningkat setiap tahunnya di Indonesia. Kondisi itu pun mengancam produktivitas sektor pertanian yang mayoritas digerakkan dari wilayah perdesaan.

Berdasarkan data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi saat ini persentase penduduk di pedesaan masih 50,2 persen dari total penduduk di Indonesia. Namun pada 2025 nanti diproyeksi turun menjadi 33,4 persen.

Angelina Ika Rahutami Peneliti dan Dosen Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata menyebut, kondisi tersebut menimbulkan masalah bagi sektor pertanian Indonesia, dimana mayoritas pekerja di sektor pertanian akan diisi oleh orang tua. Kondisi tersebut akan menyulitkan adanya inovasi teknologi di sektor pernah berkontribusi besar terhadap PDB Indonesia itu.


"Karena orang mudanya lebih memilih pergi ke luar kota dan bekerja di luar kota, meskipun itu tidak menjamin lebih sejahtera," ujar Ika dalam diskusi ketahanan pangan di Semarang, Kamis (30/3).

Ika menjelaskan, saat ini di daerah perdesaan tengah terjadi mobilisasi tenaga kerja produktif dan terdidik dari wilayah desa ke kota atau yang biasa disebut brain drain. Keadaan itu memunculkan prediksi hingga 2035 jumlah penduduk perdesaan menurun sebanyak 0,64 persen per tahun.

"Ini karena cenderung memilih bekerja di kota, sehingga terjadi aging labor di sektor pertanian, meskipun Kementerian Pertanian terus berinovasi tapi kalau petaninya sudah sepuh dan tua untuk berpikir mekanisasi tentunya akan sangat sulit," jelasnya.

Menurutnya perlu ada kebijakan pemerintah untuk mendorong tenaga kerja muda agar mau bergelut di bidang pertanian, khususnya di desa. Pendidikan vokasi khusus pertanian, dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan minat penduduk usia muda untuk terjun ke desa dan membangun sektor tersebut.

Pasalnya, saat ini pendidikan vokasi tidak didesain dengan begituu bagus. Ia mencontohkan banyak kabupaten maupun daerah yang memiliki potensi di bidang pertanian namun tidak memiliki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang spesialis di bidang pertanian.

"Contoh nyata adalah Wonosobo, itu adalah daerah pertanian namun tidak ada sekolah kejuruan yang menyediakan ilmu pertanian, yang ada malah sekolah kejuruan soal otomotif," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyebut, kebutuhan pangan dunia akan terus meningkat setiap tahunnya. Isu penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian menambah rentetan masalah dalam sektor pangan di samping masalah kekurangan lahan.

Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia pada tahun 2050 nanti, output produksi pangan harus ditingkatkan hingga dua kali lipat. Sementara Total Factor Production (TFP) Food terindikasi sulit memenuhi target 2050.

"Secara global 2050 kebutuhan pangan akan dua kali lipat dari kebutuhan saat ini, sementaara perekonomian di low income country hanya tumbuh 1-1,2 persen, artinya akan ada gangguan produksi secara global di beberapa negara akibat alih fungsi lahan," jelasnya.
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER