"Tuduhan itu tidak beralasan. Itu hanya emosi sesaat saja," tutur Ketua DPP GPEI Benny Soetrisno kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/4).
Pekan lalu, Trump menyatakan akan mengevaluasi perdagangan dengan sejumlah negara yang mengakibatkan neraca perdagangan AS defisit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benny menjelaskan, defisit terjadi karena AS memang lebih banyak membutuhkan produk dari Indonesia dibandingkan sebaliknya.
Selain produk padat karya, produk yang diminati oleh AS adalah buah kakao (cokelat) yang memang banyak tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia.
Bahkan, Indonesia tidak mendapatkan privilege tarif seperti pesaing utama Indonesia, Vietnam. Sebagai gambaran, produk tekstil Indonesia ke Negara Paman Sam dikenakan tarif sekitar 5 hingga 20 persen. Sementara, produk Vietnam tarif bea masuknya bisa nol persen.
Sebagai informasi, AS memang merupakan salah satu mitra dagang terbesar bagi Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor produk non-migas Indonesia ke AS mencapai US$2,78 miliar pada Februari 2017 lalu. Ini menempatkan AS sebagai negara tujuan ekspor non-migas kedua terbesar bagi Indonesia, setelah China yang sebesar US2,91 miliar. Di urutan ketiga, India dengan nilai ekspor US$2,34 miliar.