Kenaikan laba tersebut ditopang oleh penjualan yang juga ikut membaik. Tercatat, penjualan perusahaan pada kuartal lalu mencapai US$727 juta atau meningkat 24,06 persen dibanding posisi tahun sebelumnya US$586 juta.
Menguatnya kinerja penjualan Adaro ini didukung oleh penguatan harga batu bara sebesar 39 persen apabila dibandingkan kuartal I tahun 2016. Penguatan harga ini sangat menopang pendapatan mengingat volume penjualan batu bara perusahaan menurun
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, produksi batu bara Adaro mencapai 11,86 juta metrik ton pada kuartal kemarin, atau melesu 6,17 persen dari posisi tahun sebelumnya 12,64 juta metrik ton.
Selanjutnya, perusahaan akan fokus dalam melakukan efisiensi beban operasional di tengah kondisi yang fluktuatif. Sayangnya, visi perusahaan itu masih belum tercermin pada kuartal I yang lalu, di mana beban pokok pendapatan malah meningkat 17,82 persen dari US$432 juta di tahun lalu ke angka US$509 juta di tahun ini.
"Di tengah kondisi yang fluktuatif, kami terus menjunjung keunggulan operasional dan berfokus pada efisiensi dan produktivitas di ketiga pilar pertumbuhan perusahaan," pungkasnya.