"Industri manufaktur tumbuh 4,21 persen itu terlalu rendah untuk ekonomi Indonesia, yang sebenarnya bisa menjadi basis untuk sektor manufaktur," tutur Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara saat ditemui di Kompleks BI, Jumat (5/5).
Ketidakpuasan bank sentral beralasan, mengingat kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian merupakan yang terbesar, yaitu 20,47 persen pada kuartal I 2017. Sektor manufaktur juga merupakan sektor yang banyak menyerap tenaga kerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau 4,21 persen itu tidak cukup untuk mendongkrak perekonomian kita. Dulu, industri manufaktur bisa tumbuh di atas 6 persen," katanya.
Adapun, sektor lain yang membuat Mirza optimis, yakni pertanian. Sepanjang Januari-Maret 2017, sektor pertanian tumbuh 7,12 persen atau melesat dibanding periode yang sama tahun lalu, yaitu 1,85 persen.
Menurut Mirza, membaiknya pertumbuhan sektor pertanian tak lepas dari bergesernya musim panen dari kuartal II pada tahun lalu menjadi kuartal I pada tahun ini, termasuk perbaikan harga komoditas.
"Sektor manufaktur ini terbantu oleh program infrastruktur," imbuhnya.
Secara umum, Mirza masih memberikan apresiasi terhadap capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I 2017 yang mencapai 5,01 persen. Realisasi tersebut di atas ekspektasi bank sentral yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi kurang dari lima persen.
Ke depan, Mirza berharap, tren pertumbuhan ekonomi akan terus membaik. Sebelumnya, BI meramalkan ekonomi sepanjang tahun ini akan tumbuh di kisaran 5 hingga 5,4 persen.