Kepala BPS Suhariyanto atau yang akrab disapa Ketjuk mengatakan, hal ini sekaligus menepis sentimen negatif dari kebijakan perdagangan protektif yang disuarakan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
"Dari apa yang terlihat sampai Maret, nampaknya itu tidak terjadi karena persentase ekspor ke AS tetap tumbuh18,16 persen di kuartal I 2017 dengan kontribusi ke seluruh ekspor 11,7 persen," jelas Ketjuk, di kantornya, Jumat (5/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan para mitra dagang tersebut tercatat, komoditas yang paling laris diperdagangkan berasal dari industri non-migas, seperti lemak dan hewan nabati, karet dan barang dari karet, bahan bakar mineral, kendaraan dan bagiannya, berbagai produk kimia, serta mesin dan mekanik.
Sebagai informasi, BPS mencatat, Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) sebesar Rp2.377,5 triliun dan PDB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp3.227,2 triliun.
Dari strukturnya, kontribusi PDB berasal dari konsumsi rumah tangga sebesar 56,94 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 31,56 persen, ekspor 20,5 persen, konsumsi pemerintah 6,58 persen, dan konsumsi LNPRT 1,19 persen.
Namun, secara pertumbuhan, indikator ekspor tumbuh yang paling tinggi, yakni mencapai 8,04 persen, diikuti Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) 8,02 persen, impor tumbuh 5,02 persen, konsumsi rumah tangga 4,93 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 4,81 persen, dan terakhir konsumsi pemerintah tumbuh 2,71 persen.