Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam mengatakan, ke-14 sumur ini akan dibor pada bulan Juni mendatang. Dengan aktivitas ini, ia berharap bisa mempertahankan produksi gas Mahakam di angka 1,4 bcf. Namun, angka ini bisa berubah jika produksi Mahakam menurun tajam di tahun ini.
Sejauh ini, menurut data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), produksi gas Mahakam sepanjang kuartal pertama 2017 tercatat 1.552 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), menurun dari tahun lalu sebesar 1.752 MMSCFD. Ini menunjukkan, posisi produksi gasnya saat ini masih lebih besar dibanding angka yang diinginkan perusahaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengeboran 14 sumur ini rencananya akan menelan dana US$160 juta. Adapun produksi dari sumur-sumur tersebut diperkirakan sudah bisa menyumbang produksi secara signifikan di tahun depan. Selain itu, permasalahan terkait pihak yang menanggung perpajakan di sumur migas pada masa transisi ini juga sudah selesai.
Pertamina rencananya akan mengambil alih pengelolan blok Mahakam dari Total mulai 1 Januari 2018 mendatang. Untuk itu, Pertamina mulai melakukan investasi di Wilayah Kerja (WK) migas yang terletak di sisi timur Kalimantan itu di masa transisi yang berlangsung sepanjang tahun ini.
Meski Pertamina sudah bisa investasi, tetapi pengelolaannya (operatorship) tetap dilakukan oleh Total. Pasalnya, kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract/PSC) perusahaan asal Perancis itu baru akan habis 31 Desember 2017 nanti. Kepastian aktivitas Pertamina ini dijamin di dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 30 tahun 2016.