Pencapaian pertumbuhan kredit April 2017 ini juga melampaui realisasi kredit periode yang sama tahun lalu yang cuma sebesar Rp4.036,3 triliun atau meningkat 7,74 persen.
"Kami harapkan, kalau konsolidasi perbankan dan konsolidasi korporasi cepat selesai, kredit ini akan terus meningkat hingga akhir tahun," ujar Gubernur BI Agus DW Martowardojo dalam konferensi pers di Gedung Thamrin BI, Kamis (18/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apabila dirinci, kredit dengan denominasi rupiah tercatat tumbuh 9,67 persen per April 2017. Sementara, kredit valas meningkat 7,25 persen. "Secara tahun (year to date), kredit valas masih negatif 0,76 persen, tetapi kalau dibandingkan tahun lalu valas negatif 4,12 persen," kata Erwin.
"Tetapi, NPL tersebut masih jauh di bawah benchmark atau batasan, yaitu di bawah lima persen," terang Erwin.
Namun, ia memastikan, secara bersih (net), NPL akan tetap berada di bawah 1,5 persen yang berarti menunjukkan ketahanan perbankan di Indonesia. Hal itu didukung oleh kondisi rasio kecukupan modal yang berada di level 22,7 persen.
Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede memprediksi, permintaan kredit pada kuartal II akan meningkat. Permintaan kredit modal kerja dan investasi akan naik seiring dengan siklus bisnis. Sementara, permintaan kredit konsumsi juga akan meningkat seiring dengan periode ramadan dan lebaran.
Tren kenaikan permintaan kredit, sambung dia, juga terindikasi dari peningkatan uang beredar M2. Berdasarkan data BI, per Maret 2017, posisi M2 tercatat sebesar Rp5.017 triliun atau tumbuh 10,0 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Realisasi pertumbuhan uang beredar Maret 2017 juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya tumbuh, 7,4 persen.
"Kenaikan permintaan kredit serta restrukturisasi perbankan sejak 1-2 tahun terakhir diharapkan dapat menekan rasio kredit bermasalah," pungkasnya.