Berdasarkan data OJK, kredit investasi pada sepanjang kuartal pertama tahun ini tumbuh 10,32 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1.138,24 triliun. Pertumbuhan tersebut sebenarnya lebih lambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat tumbuh 11,63 persen (yoy).
Namun, dibandingkan dengan jenis kredit lainnya, kredit investasi tercatat tumbuh paling tinggi. Adapun kredit modal kerja pada kuartal pertama tahun ini tumbuh 8,6 persen (yoy), sedangkan kredit investasi tumbuh 9,3 persen (yoy). Adapun dari sisi nilai, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masih mendominasi dengan penyaluran kredit yang masing-masing mencapai Rp2.007,86 triliun dan Rp1.223,87 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peningkatan ekonomi, menurut Muliaman, antara lain terlihat pada capaian pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 5,01 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu 4,92 persen.
"Untuk NPL BNI, secara umum kami masih di bawah tiga persen," ujarnya.
Sebagai informasi, pada kuartal pertama tahun ini, kredit perbankan secara keseluruhan tercatat tumbuh 9,2 persen (yoy) menjadi Rp4.369,97 triliun. Penyaluran kredit masih didorong oleh kredit dalam denominasi rupiah yang tumbuh 9,5 persen (yoy) menjadi Rp3.731,17 triliun. Sementara itu, kredit valas tumbuh 7,5 persen (yoy) menjadi Rp638,8 triliun.
Dari sisi sektor usaha, tiga sektor yang pertumbuhan kreditnya tinggi adalah sektor listrik sebesar 40,15 persen (yoy) menjadi Rp138,23 triliun, sektor konstruksi 26,41 persen (yoy) menjadi Rp215,28 triliun, dan sektor pertanian sebesar 12,45 persen (yoy) menjadi Rp284,46 triliun.
Sementara, itu, penurunan terjadi pada kredit sektor transportasi sebesar 2,7 persen (yoy) menjadi Rp171,08 triliun.