Bulog Klaim Harga Bahan Pokok Stabil di Awal Ramadan

Christine Novita Nababan , CNN Indonesia | Senin, 29/05/2017 06:44 WIB
Bulog Klaim Harga Bahan Pokok  Stabil di Awal Ramadan Hal ini dikarenakan pasokan bahan pokok pada ramadan tahun ini relatif lebih besar dibandingkan dengan ramadan tahun sebelumnya. (ANTARA FOTO/Ampelsa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perum Bulog melansir harga sejumlah bahan pokok stabil, seperti gula pasir, beras, dan daging, mengawali ramadan tahun ini. Hal ini dikarenakan pasokan bahan pokok relatif lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Saya melihat, indikator dari sisi Bulog. Contoh komoditas, yaitu gula pasir, dibanding tahun lalu, saat ini jauh lebih besar stok yang dikuasai oleh pemerintah. Yakni, sebesar 329 ribu ton, kalau dibanding dengan tahun lalu di bawah 100 ribu ton," kata Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Karyawan Gunarso dikutip dari ANTARA, Minggu (28/5).

Indikator kestabilan bahan pokok saat ramadan 2017 juga bisa terlihat dari harga-harga yang stabil dibanding tahun lalu. Bulog mencatat, Kementerian Perdagangan mengendalikan harga eceran tertinggi untuk komoditas gula pasir pada kisaran Rp12.500 per kilogram. Sementara, komoditas beras eceran seharga Rp7.300 per kilogram dan beras jenis IR3 Rp8.300 per kilogram.

"Saya melihat dengan posisi awal ramadan dengan harga seperti ini, jauh dibanding dengan tahun sebelumnya. Ini lebih stabil. Jadi, itu dua indikator, yaitu stok yang dikuasai Bulog dan harga yang ada di pasar," terang Karyawan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih mengatakan, indikator kestabilan harga dan stok bisa dipantau dari terjadinya deflasi pada Januari hingga Maret 2017.

Beberapa bahan pokok yang harganya sempat naik pada akhir April hingga awal Mei 2017, antara lain telur ayam sebesar 5,37 persen menjadi sekitar Rp22 ribu per kilogram dan bawang putih 13,7 persen menjadi sekitar Rp46 ribu per kilogram.

Adapun, kenaikan harga jelang ramadan 2016 terjadi di sejumlah kebutuhan pokok, seperti gula pasir 9,8 persen, daging ayam 8,44 persen , telur ayam 5,7 persen , cabe rawit merah 5,8 persen, serta bawang putih 6,38 persen.

Menurut Karyanto, perbedaan kenaikan harga jelang hari besar keagamaan nasional pada 2017 cukup signifikan dibandingkan 2016 lalu.

"Negara hadir dan betul-betul 24 jam tujuh hari seminggu. Jadi, tidak ada tenggang waktu untuk tidak mengawasi. Begitu ada harga naik kami saling kontak dan kirim barang," tutur dia.

Untuk cadangan bahan pokok dalam penguasaan pemerintah, data Kementerian Perdagangan mencatat, bawang merah dua ribu ton, bawang putih 1.000 ton, minyak goreng 1,5 juta ton, daging 86.620 ton, dan gula 460 ribu ton.

Selain itu, guna mencegah terjadinya penimbunan bahan pokok yang dapat mengakibatkan kurangnya persediaan di pasar dan kenaikan harga, Kementerian Perdagangan, Bulog, Kementerian Pertanian, dan Polri membentuk Satgas Pangan yang mendata jumlah impor barang komoditas disesuaikan dengan jumlah stok di pasar.

"Hampir semua bahan pangan sebenarnya rentan ditimbun, tetapi yang sekarang itu banyak sudah tertangkap adalah bawang putih. Itu sudah kami tindak," tegas Karyanto.

Diharapkan, kehadiran Satgas Pangan dapat mencegah kelangkaan bahan pangan dan kenaikan hargamengingat , koordinasi dan tindakan penegakan hukum bagi pelaku. Upaya lainnya, untuk mengendalikan harga bahan pokok, pemerintah juga telah menentukan harga eceran tertinggi (HET).

"Kami melakukan pengendalian harga dengan cara menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk komoditas di ritel modern," imbuh Karyanto.

Sejumlah HET komoditas di ritel modern, yaitu gula pasir Rp12.500/kg, minyak goreng dalam kemasan sederhana Rp11 ribu per liter, dan daging beku maksimum Rp80 ribu/kg.