Sekretaris Perusahaan United Tractors Sara K. Loebis menyatakan, pertimbangan perusahaan menaikan penjualan alat berat ini dilakukan seiring dengan membaiknya harga batu bara sejak tahun lalu. Sehingga, terjadi peningkatan permintaan.
"Kami revisi mengikuti permintaan dari sektor tambang dan pasokan dari Komatsu," ungkap Sara, Selasa (6/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, ESDM terus menaikan HBA tiap bulannya. Bahkan, HBA per Desember yang ditetapkan tembus ke level US$101,69 per metrik ton.
Sementara itu, ESDM sendiri melansir HBA pada Mei 2017 sebesar US$83,81 per metrik ton atau naik 1,57 persen dari bulan sebelumnya US$82,51 per metrik ton.
Namun demikian, total penjualan yang ditargetkan perusahaan tersebut bukan berarti sebanding dengan total produksi alat berat oleh Komatsu. Menurutnya, target penjualan alat berat ini hanya menghitung berdasarkan pasar Indonesia.
"Produksi Komatsu secara global tentu lebih dari 3.000 unit. Unit yang dijual adalah hasil produksi beragam pabrik di Indonesia, Thailand, Jepang, dan Amerika Serikat (AS)," jelas Sara.
Secara terpisah, Investor Relations induk usaha PT Astra International Tbk (ASII) Tira Ardianti menjelaskan, konsumen bahkan perlu menunggu minimal lima bulan untuk mendapatkan alat berat yang dijual United Tractors.
"Permintaan alat berat sudah bagus sekali," ucap Tira.
"Kalau tidak ada kejadian luar biasa yang asumsinya harga akan turun itu sudah bagus sekali untuk United Tractors," sambung Tira.
Sekadar informasi, United Tractors meraup penjualan sebesar Rp13,67 triliun pada kuartal I 2017, naik 27,89 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp10,69 triliun. Sementara, laba bersih perusahaan meningkat signifikan 105,48 persen menjadi Rp1,5 triliun dari sebelumnya Rp730,51 miliar.