Menengok Proses Pemotongan Ayam Halal Secara Massal

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Minggu, 18/06/2017 20:38 WIB
Menengok Proses Pemotongan Ayam Halal Secara Massal Saat ini, harga ayam dari peternak dihargai Rp20 ribu per kilogram (kg) atau lebih rendah dari harga seharusnya yaitu Rp20 ribu per kg. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Produksi ayam potong halal dalam sistem produksi massal harus dilakukan melalui proses yang sangat teliti. Selain demi menjaga higienitas ayam potong, proses yang detail ini dilakukan demi menciptakan kualitas ayam yang mumpuni.

Hal ini yang menjadi catatan dari kunjungan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita beserta Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat ke Rumah Pemotongan Ayam (RPA) milik PT Matahari Abadi Panganindo di Cakung, Jakarta Timur. Di dalam kunjungan itu, seorang petugas RPA menjelaskan proses pemotongan ayam dari awal hingga akhir.

Menurut petugas tersebut, ayam-ayam hidup didatangkan dari Jawa Tengah bagian barat, seperti Purwokerto, Banyumas, Tegal, dan Brebes. Terkadang, ayam juga didatangkan dari lokasi lain seperti Sukabumi, Lampung, dan Bogor.


Setelah ayam hidup tiba di RPA, setiap ekor ayam digantungkan di mesin penggantung dengan cara terbalik. Ketika digantung, ayam kemudian disetrum (stunning) hingga tak sadarkan diri menggunakan alat penyetrum dengan daya 12 Volt dan 4 Ampere. Meski demikian, ayam ini hanya pingsan dan masih belum kehilangan nyawa.

"Proses setrum dilakukan agar ayam tidak merasa kesakitan ketika disembelih. Dengan proses setrum, ayam juga tak akan menggelepar jika disembelih," kata petugas RPA tersebut, Sabtu (17/6).

Setelah pingsan, ayam kemudian dicelupkan ke dalam air panas bersuhu 63 derajat celsius demi memudahkan perontokkan bulu-bulu sebelum akhirnya dipotong. Adapun, proses pencelupan berlangsung selama dua menit.
Kemudian, proses itu dilanjutkan dengan penyembelihan. Karena ayam dipotong secara halal, maka penyembelihan masih dilakukan secara manual dengan memutus tiga saluran utama, yaitu pembuluh darah, kerongkongan, dan esofagus. Setelah itu, jeroan ayam akan dikeluarkan.

"Sebenarnya, pemotongan bisa dilakukan secara otomatis dengan pisau pemotong (rotary blade). Namun, jika menggunakan cara ini, maka ayam tak halal lagi," ungkapnya.

Setelah proses penyembelihan rampung, setiap petugas RPA perlu memastikan bahwa darah ayam harus dikuras dalam waktu dua menit. Jika masih ada darah tersisa, maka kualitas produk dipastikan buruk.

"Produk ayam gampang busuk dan rusak jika darah tidak keluar dengan sempurna," ungkapnya.

Jika sudah selesai, maka ayam siap dipasarkan ke pasar-pasar yang berlokasi di DKI Jakarta. Adapun, RPA Cakung dalam sehari bisa menghasilkan ayam potong yang sudah bersih (karkas) sebanyak 22 ton per harinya.

Berharap Harga Membaik


Di kesempatan yang sama, Enggartiasto menuturkan, pasokan RPA tentu sangat tergantung dari ayam hidup yang disuplai peternak. Namun sayangnya, saat ini harga daging ayam yang diterima peternak masih lebih rendah dibanding seharusnya.

Saat ini, harga ayam dari peternak dihargai Rp20 ribu per kilogram (kg) atau lebih rendah dari harga seharusnya yaitu Rp20 ribu per kg. Meski demikian, harga itu tercatat lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 27 Tahun 2017, yakni sebesar Rp18 ribu per kg.

Ia sendiri berjanji tak akan mengintervensi harga jual ayam dari peternak sebelum permintaan dan penawarannya kembali imbang. Dengan kata lain, ia mengakui bahwa rendahnya harga ayam dari peternak disebabkan karena meningkatnya persediaan.

"Jangan diganggu harga ayam dulu, biar stabil dulu mekanisme pasarnya, kasihan peternak," jelas Enggar.