Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Alpino Kianjaya menjelaskan, dengan melantai di bursa efek, tanggung jawab bagi dua perusahaan tersebut akan lebih berat. Pasalnya, akan terdapat kewajiban baru yang perlu dilakukan perusahaan, terutama dalam hal transparansi.
"Tapi perusahaan-perusahaan ini akan lebih dikenal juga baik di Indonesia maupun luar negeri," kata Alpino, Kamis (22/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) yang dilakukan Buyung Poetra, terjadi kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 27 kali. Buyung Poetra menawarkan sebanyak-banyaknya 70 juta lembar saham atau setara dengan tiga persen dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh.
"Proses yang telah kami lalui ini merupakan suatu peristiwa luar biasa yang sangat penting bagi perjalanan Buyung Poetra dan menjadi fondasi kokoh bagi pertumbuhan perusahaan selanjutnya," terang Direktur Utama Buyung Poetra Sukarto Bujung.
Lihat juga:Bursa Efek Sebut Dua Anak BUMN Bakal IPO |
Sementara itu, Marga Abhinaya melepas 1,18 miliar saham atau 20 persen dari saham perusahaan. Perusahaan pun meraup dana segar sebesar Rp132,72 miliar.
Direktur Utama Adrian mengatakan, 32 persen dana raihan IPO akan digunakan untuk pembayaran utang, 49 persen akan disalurkan ke entitas usaha, dan sisanya 19 persen untuk modal kerja. Asal tahu saja, pada pooling saham 19 Juni, terjadi kelebihan permintaan sebesar 200 kali.
Dalam perdagangan perdananya, saham keduanya mengalami kenaikan. Terpantau, saham Buyung Poetra naik 29,03 persen di level Rp400 per saham dan Marga Abhinaya menguat 69,64 persen ke level Rp190 per saham