"Saya melihat, kita kayaknya masih perlu menyiapkan bahannya lebih luas karena nggak bisa hanya bicara soal sawitnya saja, tapi juga harus melihat bagaimana sekarang perlakuan yang kita anggap sangat diskriminatif di Eropa. Banyak tindakan-tindakan yang menurut kita yang tidak patut dilakukan," ujarnya, Kamis (22/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darmin mengaku, akan merangkul dan berkomunikasi dengan pemerintah Malaysia selaku negara pengekspor sawit terbesar di dunia.
Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pemerintah untuk lebih serius melindungi produk sawit Indonesia di Uni Eropa. Pasalnya, saat ini, pengusaha sawit harus menghadapi kampanye hitam terhadap produk sawit, khususnya di Eropa.
"Tanpa keterlibatan pemerintah yang sangat serius, saya khawatir industri sawit Indonesia akan menjadi bagian dari sejarah saja," imbuh Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo Danang Girindrawardana, kemarin.
Sebagai informasi, per April 2017, ekspor minyak sawit mentah (CPO) keseluruhan tercatat sebesar 2,68 juta ton. Ekspor tersebut meningkat 5,93 persen dibanding bulan sebelumnya, yaitu 2,53 juta ton. Adapun 482,95 ribu ton di antaranya diekspor ke negara-negara Uni Eropa.