Lembaga keuangan yang dimaksud, yakni PT Bank CIMB Niaga Tbk, Bank National Nobu, Bank Perkreditan Rakyat Intidana, serta perusahaan pembiayaan PT Home Credit Indonesia.
Direktur Jenderal Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh mengungkapkan, laporan kejahatan berkurang seiring dengan semakin banyaknya lembaga atau industri yang melakukan kerja sama dengan Kemendagri untuk fasilitas pembukaan data penduduk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:OJK Godok Revisi Aturan IPO Perusahaan Asing |
Dengan memiliki akses data masyarakat, sambung Zudan, maka akan sangat membantu perbankan maupun perusahaan pembiayaan dalam melakukan pengecekan data nasabah. Misalnya, untuk penyaluran kredit.
Pasalnya, beberapa pihak ada yang menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu untuk membuka akun, setelah uang yang diincar atau hasil curiannya masuk dalam rekening tersebut, maka rekening akan ditutup.
"Jadi, rekam jejaknya kelihatan, jelas. Jadi, penipuan itu ke depannya bisa jauh berkurang," katanya.
"Kami berkomitmen untuk menjalankan bisnis dengan baik dan sesuai arahan regulator untuk mendukung mewujudkan aspirasi kami menjadi bank digital terkemuka di Indonesia," tutur dia.
Adapun, Direktur Home Credit Indonesia Daniswara Pradipta menyebutkan, tujuan dari kerja sama itu untuk mempermudah perusahaan dalam meningkatkan pelayanan terkait mengenal nasabah atau Know Your Customer (KYC).
"Jadi, memang ini akan sangat membantu proses KYC dan juga mencegah tindakan, seperti pencucian uang," ucap Daniswara.
Namun demikian, Zudan mengingatkan, tiap perusahaan wajib menjaga fasilitas data kependudukan yang dapat diakses secara leluasa.
Apabila pemerintah menemukan ada pihak-pihak tertentu dari perusahaan tersebut menggunakan fasilitas itu diluar batas, maka Kemendagri akan memutus kerja sama yang sudah terjalin.
"Jadi, jangan main-main, misalnya melihat data Presiden Joko Widodo (Jokowi) atau Luna Maya untuk melihat struktur keluarga, karena memang akan ketahuan data lengkap," pungkasnya.