Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon menyebut, konsolidasi yang dilakukan perbankan telah rampung. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) pun saat ini sudah berangsur turun dan berada dikisaran 3,09 persen pada semester pertama tahun ini.
Nelson pun memperkirakan, penyaluran kredit tercatat sudah mulai tumbuh dua digit atau diatas 10 persen hingga akhir Juni 2017. Pertumbuhan kredit tersebut membaik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 8,2 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun ini, OJK menargetkan pertumbuhan kredit perbankan akan berada dikisaran 9 persen hingga 11 persen.
"Pertumbuhan kredit masih normal, lebih dari 9 persen. Jadi saya kira masih sesuai dengan tracknya," terangnya.
Muliaman pun menilai, memasuki semester kedua tahun ini, muncul optimisme perbankan dalam menjalankan bisnisnya. OJK pun saat ini memilih menunggu adanya revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) yang diperkirakan akan masuk akhir bulan ini.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memproyeksi pertumbuhan kredit sampai Juni 2017 sebesar 16 persen hingga 18 persen secara tahunan (yoy).Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengatakan, pertumbuhan kredit ini disumbangkan oleh beberapa sektor terutama dari perdagangan, restoran hotel, dan jasa dunia usaha.
"Selain itu sebagian pertumbuhan kredit ini juga disumbangkan oleh penyaluran kredit sektor listrik gas dan air," ujarnya.
Kendati demikian, BNI sebelumnya mengaku tak akan merubah target pertumbuhan kreditnya yang berada kisaran 14 persen hingga 16 persen.
Sebelumnya, Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengaku berencana merevisi ke atas target penyaluran kreditnya dalam revisi RBB. Target kredit yang sebelumnya sebesar 12 persen dinaikkan menjadi 12,6 persen.
"Rencana kemarin (RBB 2017) dibuat waktu masih September 2016. Nah, kami melihat progress positif dari pertumbuhan ekonomi, jadi target pertumbuhan kredit kami naikkan," tutur Haru.