Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengatakan, saat ini, masa balik modal usaha pusat perbelanjaan terhitung baru terjadi 10 tahun hingga 12 tahun ke depan. Sebelumnya, balik modal ini bisa tercapai maksimal dalam waktu 9 tahun saja.
Menurut Ridwan, turunnya masa balik modal ini dikarenakan pertumbuhan biaya yang tidak sesuai dengan penyewa tenant. Rata-rata harga tanah dan beban operasional sudah naik, tetapi penyewa meinginkan harga sewa murah dengan fasilitas yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pelemahan daya beli masyarakat juga berpotensi membuat permintaan penyewa mulai kendur. Sehingga, pelaku usaha juga menahan pembangunan mal di lokasi yang sekiranya sedang mengalami daya beli yang lesu. Hal ini karena khawatir balik modalnya bisa semakin mundur lagi.
"Tentu saja, dibutuhkan perbaikan ekonomi agar mal-mal ini bisa dibangun," tutur dia.
Di tengah kondisi tersebut, ia menyarankan, mal yang sudah terlanjur dibangun tetap perlu dirampungkan. Menurutnya, di tahun ini akan ada 10 mall yang akan diresmikan yang terletak di Surabaya, Medan, dan Jakarta.
Untuk mengantisipasi lamanya periode balik modal di kota besar, pengembang umumnya merancang penggunaan gedung (mix use) dengan apartemen dan gedung perkantoran. Sehingga, mal bisa menjadi magnet masyarakat untuk berinvestasi di perkantoran maupun apartemen.
Di tengah maraknya pusat perbelanjaan yang sepi, Ridwan melanjutkan, ada beberapa investor yang mengantri ingin menjadi penyewa di beberapa mal tertentu. "Sebetulnya, mal tidak sepi juga, bergantung kreativitas mal-nya," pungkas Ridwan.
Sebagai informasi, hingga saat ini, terdapat 312 pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia. Di antaranya, 293 mal merupakan pusat perbelanjaan kelas menengah ke bawah. (bir)