Namun, Sandi mengatakan pertumbuhan angka UMKM ini seharusnya ditanggapi dengan kritis. Menurutnya, menjamurnya UMKM ini disebabkan karena banyak angkatan kerja yang tidak mampu diserap pasar tenaga kerja formal.
Sehingga menurutnya, saat ini pelaku UMKM mau tak mau membuka usaha untuk menyambung hidup. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan UMKM adalah by default bukan by design.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harusnya tidak boleh bangga (soal banyaknya UMKM), karena (Indonesia) belum bisa hadirkan lapangan kerja formal berdaya saing. Sehingga pertumbuhan UMKM bukan by design, tapi by default. Kalau begini terus, UMKM bisa bertumbuh 60 juta unit dalam lima tahun ke depan," kata Sandi di Bursa Efek Indonesia, Senin (24/7).
Dengan melempar saham ke lantai bursa, UMKM dianggap bisa mengelola uangnya dengan baik dan bisa membuat valuasi perusahaannya semakin besar. Ia mencontohkan beberapa start up berbasis teknologi seperti Google, Facebook, hingga Amazon bisa menjadi papan atas di bursa saham New York.
"Padahal dulu lima dari 10 perusahaan besar di New York Stock Exchange (NYSE) adalah platform companies. Sekarang kenyataannya cukup berbeda. Indonesia juga bisa, dengan berbasiskan teknologi dan digitalisasi, 10 tahun ke depan UMKM Indonesia juga bisa mengalami hal yang sama," katanya.
"Dari segi UMKM, Indonesia sangat bisa mengadopsi inovasi demi meningkatkan usaha mereka. UMKM Indonesia juga embrace e-commerce dengan baik. Jumlah unit Indonesia juga banyak dibanding Thailand, Malaysia, hingga Australia. Dari segi UMKM, Indonesia harus bisa jadi juara," papar Sandi.