Pengelola Dana Masih Ragu Investasi di Obligasi Korporasi

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 25/07/2017 06:13 WIB
Pengelola Dana Masih Ragu Investasi di Obligasi Korporasi Hingga Mei 2017, dana perusahaan jasa keuangan yang mengalir ke obligasi korporasi baru mencapai Rp332 triliun. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melihat, perusahaan jasa keuangan masih ragu untuk menempatkan dananya pada obligasi korporasi. Hingga Mei 2017, dana perusahaan jasa keuangan yang mengalir ke obligasi korporasi baru mencapai Rp332 triliun atau 13,2 persen dari total dana yang diinvestasikan sebesar Rp2.497.7 triliun.

Presiden Direktur Pefindo Salyadi Saputra mengatakan, diantara seluruh sektor pemegang dana kelolaan, asuransi terbilang paling sedikit menginvestasikan uangnya di obligasi korporasi. Hingga Mei, dana kelolaan asuransi yang mengalir ke obligas korporasi tercatat Rp21,7 triliun, atau 4,88 persen dari dana kelolaannya yang mencapai Rp445,1 triliun.

Salyadi menuturkan, minimnya penembatan asuransi pada obligasi korporasi antara lain disebabkan adanya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 1 Tahun 2016 yang mewajibkan minimal 30 persen dana kelolaan asuransi ditempatkan pada Surat Berharga Negara (SBN). Padahal, penetrasi dana asuransi ke obligasi korporasi seharusnya lebih besar, agar penempatan dana asuransi bisa lebih variatif.


"Angka penempatan uang dari asuransi ini tantangan. Kami harapkan, asuransi bisa tertarik untuk menginvetsasikan dananya ke obligasi korporasi," jelas Salyadi di Bursa Efek Indonesia, Senin (24/7).

Tak hanya asuransi, sektor perbankan juga terlihat minim dalam menempatkan dana kelolaannya di obligasi korporasi. Sebab, dari penempatan dana perbankan di luar kredit sebanyak Rp1.186,4 triliun, hanya Rp59,9 triliun atau 5,05 persen saja yang masuk ke obligasi korporasi.
Sementara itu, porsi investasi perusahaan manajer investasi pada obligasi korporasi tercatat sudah cukup besar yakni mencapai Rp94,9 triliiun atau 41,17 persen dari dana kelolaannya sebanyak Rp230,5 triliiun. Salyadi menuturkan, hal ini mungkin disebabkan karena imbal hasil (yield) dari obligasi lebih stabil dibanding saham yang lebih fluktuatif.

Tak hanya itu, kini masyarakat juga dianggap lebih banyak menggunakan reksa dana karena dianggap lebih nyaman. Hal itu pun berimbas pada peningkatan dana kelolaan reksa dana ke obligasi.

"Analisis kami, banyak reksa dana dipakai investasi karena ini adalah solusi alternatif terhadap deposito. Kalau bentuknya fixed income, kemungkinan masyarakat untuk dapat return yang negatif hampir tidak mungkin. Akibatnya, pertumbuhannya (dana kelolaan) manajer investasi di pasar obligasi korporasi juga terbilang sangat signifikan," imbuhnya.

Salyadi berharap, penempatan dana perusahaan keuangan pada obligasi korporasi dapat diperbesar seiring peluang untuk mendapatkan yield yang lebih tinggi. Dia memperkirakan, yield obligasi saat ini terbilang lebih atraktif dalam jangka panjang karena inflasi yang stabil dan suku bunga yang terus melandai.

Di samping itu, yield obligasi pemerintah saat ini juga menurun karena ada kenaikan peringkat investasi (investmet grade) oleh Standard and Poor (S&P). Akibatnya, selisih (spread) yield antara obligasi pemerintah dan obligasi korporasi semakin besar, sehingga obligasi korporasi dipandang sangat menarik.

Adapun menurut data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), saat ini spread antara yield obligasi korporasi dengan obligasi pemerintah dengan peringkat AAA mencapai 163,5 basis poin hingga 170,4 basis poin. Angka ini diambil dari obligasi yang memiiki masa tenor antara 5 hingga 10 tahun.

"Benchmark rate terus menurun, sehingga obligasi juga terbilang lebih menarik," pungkasnya.
Sekadar informasi, obligasi korporasi yang beredar di Indonesia per Juni 2017 mencapai Rp334,8 triliun. Sementara itu, obligasi baru yang diterbitkan sepanjang semester I tahun ini mencapai Rp57,3 triliun dan diramal bisa meningkat hingga Rp119,6 triliun hingga akhir tahun nanti.


BACA JUGA