BRI Kaji Stock Split Demi Perluas Basis Nasabah

Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Rabu, 09/08/2017 18:18 WIB
Harga saham bank pelat merah nomor wahid tersebut saat ini berada di level Rp14.900 per saham. Sehingga, tak terjangkau investor ritel. Harga saham bank pelat merah nomor wahid tersebut saat ini berada di level Rp14.900 per saham. Sehingga, tak terjangkau investor ritel. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk akan mengkaji pemecahan saham (stocks split) agar harga saham perseroan lebih terjangkau bagi investor ritel. Harga saham bank pelat merah nomor wahid tersebut saat ini berada di level Rp14.900 per saham.

Namun demikian, Wakil Direktur BRI Sunarso mengungkapkan, stock split bukan satu-satunya cara untuk menarik nasabah ritel.

"Banyak cara, tapi itu (stocks split) menjadi salah satu fokus pembahasan kami, kalau itu jadi memperluas basis nasabah tentu akan kami kaji," ujarnya, Rabu (9/8).


Ia mengakui, valuasi saham perseroan memang sudah tinggi. Namun, stocks split bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Pasalnya, perusahaan juga perlu memastikan harga sahamnya dapat kembali tumbuh cepat setelah dipecah.

"Kemudian bagaimana kondisi makronya, kalau stocks split memungkinkan tidak tumbuh cepat ya sulit. Karena setelah stocks split kan harus tumbuh supaya kembali ke harga semula," tutur dia.

Emiten dengan kode BBRI itu juga perlu mengkaji secara detil terkait rasio stocks split tersebut untuk memastikan pertumbuhan kembali harga saham perusahaan.

"Apakah 1:2 atau 1:3, 1:4, 1:5 kami harus ukur. Kalau 1:5 kan turun 5 level. Jadi, untuk naik lagi itu tantangan," jelasnya.

Menurut Sunarso, saham perseroan sebesar 56,75 persen dikempit oleh pemerintah, sedangkan asing memiliki 35 persen, dan 7 persen dimiliki domestik.

"Saham yang dimiliki publik porsinya sudah tinggi jika dibandingkan bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain," imbuh dia.

Sebelumnya, perusahaan pernah melakukan stocks split pada tahun 2011 silam menjadi Rp250 per saham dari sebelumnya Rp500 per saham.

Adapun, BRI kini tengah melakukan proses due diligence terkait dengan beberapa perusahaan sekuritas mengenai rencana akuisisi perusahaan. Namun, Sunarso mengklaim, pihaknya masih akan melihat tingkat urgensi kepemilikan perusahaan sekuritas itu sendiri bagi perusahaan.

"Kalau bisa cepat ya akuisisi, tapi kalau ada hambatan dan mendesak ya kami buat sendiri juga bisa. Jadi, semua tidak menutup kemungkinan," katanya.

Perseroan menargetkan rencana tersebut bisa terealisasi tahun ini. Namun, sayangnya, ia masih enggan menyebut perusahaan sekuritas dan nilai yang sedang dalam proses due diligence.

"Yang penting, pokoknya perusahaan sekuritas, yang secara legal bisa punya fungsi bisnis sekuritas," pungkasnya.

Secara terpisah, Direktur Keuangan Haru Koesmahargyo menambahkan, perseroan menargetkan pertumbuhan aset hingga Rp1.700 triliun pada 2022 mendatang. Menurutnya, tiap tahun aset perusahaan diprediksi tumbuh 14 persen.

"Untuk keuntungan kami targetkan naik dua kali lipat dari 2016, mimpinya seperti itu," ucapnya singkat.