"Mengenai tuduhan Korindo, kami menyangkal keras seluruh tuduhan keji dan tidak mendasar dari NGO asing seperti Mighty Earth yang sudah melakukan black campaign kepada kami sejak akhir tahun 2016 lalu," tulis Yulian Riza, Corporate Communication Manager Korindo Group, dalam keterangan resminya, Jumat (25/8).
Korindo mengklaim hanya memanfaatkan lahan untuk perkebunan dan kehutanan sesuai peraturan yang berlaku. Perusahaan itu juga menyebut tak menggunakan pembakaran untuk pembersihan hutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yulian juga menuturkan ada diskusi bersama atas inisiasi pemerintah daerah dengan Mighty Earth pada 24 Juli 2017 di Jakarta dan 15 Agustus 2017 di Merauke.
Laporan itu menyebutkan Korindo diduga menggunduli 30.000 hektar hutan hujan dan menimbulkan hampir 900 titik api di wilayah konsesi perkebunan sawit di Papua dan Maluku Utara sejak 2013. Laporan itu juga merekam catatan buruk Korindo dalam mengambil alih tanah milik masyarakat adat tanpa persetujuan.
Nama Korindo mencuat kembali dalam kerja samanya dengan Samsung di bisnis kelapa sawit. Akibat hal itu, Mighty Earth membuat petisi untuk Samsung agar segera mengakhiri kerja sama tersebut.
Target Petisi
Petisi daring itu sudah memperoleh 73.712 tanda tangan hingga berita ini diturunkan. Sementara target tanda tangan yang dikumpulkan adalah 75.000 untuk dikirim ke Samsung.
Lihat juga:Menko Darmin Ramal Ekspor Juli Membaik |
Hingga tulisan ini diturunkan, Samsung Indonesia belum memberi tanggapan soal petisi terkait dengan bisnis minyak sawit itu. Konfirmasi yang dikirim ke Vice President Samsung Indonesia, Lee Kang Hyun, masih belum direspons.
Samsung sendiri baru saja meluncurkan Galaxy Note 8 di New York. Note 8 adalah generasi terbaru dari seri Galaxy Note. Harga paling murah perangkat berkategori phablet ini adalah Rp12,4 juta per unit.