Kepala Riset First Asia Capital David Sutyanto mengatakan, kondisi pasar global yang rentan terkoreksi menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG. Risiko kekhawatiran geopolitik Korea Utara masih menjadi perhatian pelaku pasar secara global.
"Di sisi lain, nilai tukar rupiah cenderung menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS)," kata David dalam risetnya, dikutip Jumat (8/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menuturkan, IHSG berpeluang bertahan di teritori positif seiring bertambahnya aksi beli pelaku pasar.
Umumnya, pelaku pasar tengah mengincar saham berkapitalisasi besar, seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).
Lihat juga:IHSG Mendaki ke Level 5.832 |
Pada perdagangan kemarin, Kamis (7/9), IHSG ditutup menguat 8,17 poin (0,14 persen) ke level 5.832 setelah bergerak di antara 5.810-5.835. Penguatan itu beriringan dengan nilai tukar rupiah yang menguat di level Rp13.307 per dolar AS.
Kondisi itu berbeda dengan pergerakan bursa saham Wall Street yang bervariasi tadi malam. Dow Jones dan S&P500 turun masing-masing sebesar 0,1 persen dan 0,02 persen. Sementara, Nasdaq menguat 0,07 persen.