Direktur IBPA Wahyu Trenggono menjelaskan, sepanjang pekan pertama September ini, net buy asing tercatat Rp6,37 triliun. Kondisi ini berbanding terbalik dengan jumlah investasi asing di instrumen saham.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut sejak awal tahun hingga 8 September 2017, asing tercatat jual bersih (net sell) hingga Rp6,02 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Sikap Wait & See Investor Iringi Laju IHSG |
Menurut Wahyu, jika investor asing menjual saham dan keluar dari Indonesia, ada potensi nilai tukar rupiah bakal terjun bebas. Namun, kenyataannya nilai tukar rupiah tetap stabil di level Rp13.000-Rp13.300 per dolar AS.
"Indeks naik, maka asing waktunya panen," imbuhnya.
Selain mengambil untung, momen pemberian peringkat oleh S&P juga dimanfaatkan investor asing untuk mencari instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil (yield) tidak jauh berbeda dengan saham.
Ia memprediksi, investor asing kembali net buy jelang atau pasca laporan keuangan emiten kuartal III rilis. Pasalnya, tak ada pemanis yang memicu investor asing masuk ke pasar modal saat ini.
"Jadi, saham nunggu momentum," kata Wahyu.
Sementara itu, rata-rata frekuensi harian juga tumbuh 10,39 persen menjadi 1.226 kali per hari dari sebelumnya yang hanya 1.110 kali per hari.