Maklum, perusahaan BUMN acap kali mendahulukan anak dan cucu mereka dan mengabaikan kehadiran pelaku usaha swasta, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Anak, cucu, cicit, BUMN ini mengambil banyak porsi swasta dan UMKM. Contohnya, ada kegiatan katering untuk internal BUMN yang dibuat oleh cicit mereka. Kami ingin, BUMN ini kembali ke core (inti) bisnisnya,” ujar Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani, belum lama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa di antara pelaku usaha swasta, bahkan nilai kegiatan usahanya lebih selangit ketimbang perusahaan BUMN. Pelopor perusahaannya pun ‘mejeng’ di barisan daftar orang kaya. Contohnya, klan Hartono yang didapuk sebagai orang terkaya nomor wahid di Indonesia oleh Forbes.
Beberapa tahun terakhir, pemain swasta mendominasi kapitalisasi pasar. PT HM Sampoerna Tbk tercatat memimpin kapitalisasi pasar hingga Rp437,35 triliun pada 2015 dan berulang pada tahun 2016. Sebelumnya, ada BCA dan PT Astra International.
"Misal HMSP (HM Sampoerna) itu sejak awal mereka melantai juga harga sahamnya sudah lumayan. Ditambah lagi, bisnisnya semakin kuat. Jadi, memang proyek pemerintah ini belum membuat BUMN bisa menyaingi kekuatan swasta di pasar modal," kata Riska Afriani, analis Oso Sekuritas.
Padahal, tak sedikit perusahaan swasta yang memiliki bisnis selangit ketimbang BUMN. Bahkan, pelopor perusahaannya mejeng di barisan daftar orang kaya. (CNN Indonesia/Safir Makki). |
Selain itu, perusahaan BUMN yang mampu masuk jajaran 10 besar penguasa kapitalisasi pasar juga masih terbatas pada sektor perbankan. Tapi sektor ini sejatinya tak banyak terpengaruh oleh proyek pemerintah, melainkan penghimpunan dana dari nasabah, selayaknya bisnis perbankan.
"Memang, kredit yang disalurkan ke proyek pemerintah besar. Itu membantu mereka dari sisi pertumbuhan kredit. Tapi, dananya banyak dari nasabah juga," tutur dia.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adinegara menuturkan, yang perlu dibenahi antara hubungan swasta dan BUMN, sebenarnya bukan pada kekhawatiran dominasi tersebut. Melainkan, kesepakatan kontrak yang lebih jelas.
Sebab, selama ini, menurutnya, banyak proyek kerja sama BUMN dan swasta yang pada ujungnya justru tidak menguntungkan swasta lantaran pengembalian modal yang digunakan swasta kerap telat atau tidak sesuai kontrak.
"Masalahnya, lebih ke sub kontraktor yang biasanya dipegang swasta, harus lebih diberi kepastianl. Sehingga, mereka tak khawatir dengan dominasi BUMN itu," pungkasnya.
Padahal, tak sedikit perusahaan swasta yang memiliki bisnis selangit ketimbang BUMN. Bahkan, pelopor perusahaannya mejeng di barisan daftar orang kaya. (CNN Indonesia/Safir Makki).