Ruddy Agusyanto
Penulis adalah pengajar di Departemen Antropologi Universitas Indonesia, Direktur Operasional di Pusat Analisa Jaringan Sosial (PJAS), dan Institut Antropologi Indonesia (IAI), peneliti ahli di Dewan Pertimbangan Presiden bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Ruddy juga merupakan penulis buku ''''Fenomena Dunia Mengecil''''

Kegamangan ala 'Raksasa' Bisnis Online Tanah Air

Ruddy Agusyanto, CNN Indonesia | Senin, 13/11/2017 09:29 WIB
Kegamangan ala 'Raksasa' Bisnis Online Tanah Air Ilustrasi online shopping. (Thinkstock/Ridofranz).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia online, memang secara prinsip tak berbeda dengan dunia offline. Ini terdiri dari orang-orang juga—yang diwakili oleh akun-akun dan saling berhubungan satu sama lain.

Memang, teknologi hanyalah sarana, ia tidak dapat mengambil keputusan atas tindakan-sikap-perilaku, ia hanya memudahkan dan menyempurnakannya. Manusia yang mengambil keputusan.

Tapi, oleh karena sifat kesegeraan dan keserentakan teknologi informasi dan komunikasi, membuat dunia online mempunyai karakter yang berbeda dengan dunia offline.

Sejalan dengan dahsyatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini , kejadian di belahan bumi mana pun, kita bisa saksikan dalam waktu bersamaan. Kita bisa berinteraksi dengan siapa pun di belahan bumi ini dalam hitungan detik.

Kondisi ini, akhirnya mempengaruhi atau merubah hampir semua sendi kehidupan.

Semuanya mengarah menuju pada dunia online. Berbagai layanan publik saat ini sudah bergerak menuju layanan online. Dunia bisnis pun tak luput dari imbas teknologi informasi dan komunikasi ini, sehingga banyak bisnis ritel seperti Matahari, hingga Ramayana tergeser oleh toko-toko online seperti Bukalapak, Tokopedia dan lain-lain.

Entah apalagi nanti yang akan berubah di era digital ini yang mungkin akan mengejutkan kita karena memang banyak orang dan pelaku bisnis yg memang belum siap menghadapi era online.

Namun, dari perubahan-perubahan yang terjadi ini, apakah juga diikuti dengan perubahan pola pikir kita - dari pola pikir konvensional menjadi pola pikir jaringan? Inilah persoalannya.

Dari berbagai kasus, bahkan bagi orang orang yang telah akrab dengan dunia online pun, ternyata pola pikirnya masih belum berubah.

Contoh sederhana, kita sering menjumpai status Facebook seseorang kira-kira seperti ini “Aduh, gue kesepian di rumah. Semua orang lagi pada pergi. Emang enak sepi, mending gue nongkrong di Plaza Senayan...* sambil mengunggah foto dirinya berada di Plaza Senayan bersama teman-teman alumni SMAnya.

Kegamangan Pelaku Bisnis

Apa yang dia lakukan di dunia maya ini, tanpa disadari, dia telah memberi tahu kepada publik bahwa rumahnya sedang kosong (tidak ada orang). Dia masih beruntung jika rumahnya tidak disatroni oleh maling.

Kasus semacam ini, tidak hanya terjadi pada orang awam. Para pelaku yang sudah berkecimpung secara profesional di dunia online pun melakukannya, karena pola pikirnya tetap konvensional.

Kita semua pasti tahu Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, Lazada, Grab, Gojek, Uber dll. Mereka adalah pelaku profesional di dunia online.

Bahkan, boleh dibilang bahwa mereka adalah 'pelopor' atau para pelaku yang mampu membuat ‘terobosan’ bisnis berbasis Internet .

Namun, jika dilihat dari cara, bentuk, dan pilihan ruang untuk mengiklankan diri mereka sendiri, justru memunculkan berbagai pertanyaan seputar pola pikir jaringan.

Salah satunya, mengapa mereka masih merasa perlu iklan dan ruang iklan konvensional - seperti beriklan melalui billboard di jalan raya, di media televisi, atau pasang spanduk di lapangan sepak bola?.

Apakah hal ini dilakukan karena permintaan yang tidak bisa ditolak oleh mereka, misalnya atas permintaan dana pihak-pihak tertentu - demi menjaga hubungan atau kepentingan bisnisnya? Jika yang terjadi seperti ini, mungkin bisa dimaklumi.

Pertanyaan selanjutnya, jika karena keterpaksaan, mengapa isi dan kemasan iklannya di dunia online tidak berbeda dengan iklan yang mereka pasang di dunia offline? Sepertinya, mereka kurang percaya diri jika hanya beriklan di dunia online.

Di dunia online, lalu-lintas terlalu hiruk-pikuk karena sifat 'kesegeraan dan keserempakan', sehingga kecil kemungkinannya, netizen menengok iklan mereka, apalagi tertarik dengan produk mereka.

Ternyata mereka belum move on dari pola pikir konvensional, sehingga tampak lebih percaya diri dengan beriklan secara konvensional.

Memaksa Pemirsa TV

Sementara itu, pemirsa televisi menghidupkan perangkat itu bukan untuk tujuan melihat dan mendengar iklan, tapi mereka ingin menonton acara atau program-program yang disiarkan - seperti acara pertandingan bola, sinetron, film atau acara lainnya.

Jadi, iklan di media televisi sebenarnya secara tak langsung, memaksa pemirsa untuk menonton iklan - di sela-sela acara.

Demikian juga dengan iklan billboard di pinggir jalan, jika tidak macet, mungkin pengemudi dan penumpang tidak menengoknya - apalagi membaca (bisa rawan kecelakaan).

Jadi, salah satu karakter iklan konvensional adalah memaksa publik atau target buyer untuk melihatnya.

Di dunia online, netizen adalah warga yang ‘merdeka’ untuk menentukan apa yang mereka lihat dan baca. Iklan yang berada di sela-sela sebuah film atau video pun (Youtube), juga tidak dapat memaksa netizen untuk menonton.

Mereka dengan mudah menghindari jeda iklan yang ada.

Namun, bukan berati netizen tidak bisa 'dibujuk' sama sekali untuk melihat iklan tertentu. Buktinya, mengapa kita bisa tertarik pada postingan dari seorang teman, meski postingan tsb bukan informasi atau ide yang “luar biasa”?

Artinya, pertama, permasahannya adalah pentingnya tentang siapa yang mengunggah, sehingga ia mau membuka dan membacanya. Kedua, isi (content) dan kemasan yang seperti apa, yang membuatnya tertarik. Sebab, tidak semua postingan dari teman, ia selalu tertarik untuk membacanya.

Berpikir jaringan, bukanlah sekadar apakah kita sudah menggunakan atau menfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan kita, atau belum.

Di sisi yang lain, hal ini juga menunjukkan bahwa ide atau produk yang hebat pun, belum tentu menjamin berhasil—menyebar dan diterima, meski telah menggunakan aplikasi online.

Para pelaku bisnis online sudah seharusnya tidak gamang beriklan di dunia online, jika mereka menggunakan pola pikir jaringan.

Dalam konteks ini, dengan berpikir jaringan maka kita akan mampu mengidentifikasi, merumuskan, dan mengemas isi yang tepat, dan menyebarkannya melalui simpul-simpul yang tepat pula. Hal ini sesuai dengan peta sosial jaringan yang menjadi target dengan segala aturan komunikasi.

Sebab, jaringan sosial tidak terbangun oleh serangkaian pasangan hubungan dua arah yang hanya sekadar saling kenal, tetapi terbangun oleh rangkaian hubungan sosial yang dekat serta kompleks.

Jaringan berbagai pasangan hubungan yang dekat ini saling berbagi, baik kesenangan atau kesedihan, atau pun berbagai pengalaman, informasi, sumber daya dan sebagainya.

Semua itu, kuncinya ada pada jaringan sepasang hubungan tersebut. Semuanya terjadi dan mengalir di sana. (asa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS