"Saat ini yang kami tahu, sebuah perusahaan China sedang diskusi kerja sama dengan Pertamina untuk membangun Grass Root Refinery di Bontang," ujar Jonan pada perhelatan The 5th Indonesia China Energy Forum (ICEF) di Hotel JW Marriott, Senin (13/11).
Sayang, Jonan belum ingin buka mulut lebih lebar ihwal perusahaan asal Negeri Tirai Bambu yang digadang-gadang telah menyatakan ketertarikan dan tengah berkomunikasi dengan Pertamina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar turut membenarkan terkait ketertarikan sebuah perusahana China untuk 'berduet' dengan Pertamina di Kilang Bontang. Namun, senada dengan Jonan, Ia juga enggan menyebut nama perusahaan tersebut.
"Masih dibahas. Ini sudah lama kok (ketertarikan dari perusahaan China itu). Tapi ini kan aksi korporasi Pertamina, tanyakan ke sana," kata Arcandra.
"Dulu kan Pertamina harus mayoritas. Sekarang dibuka sajalah, silahkan. Kalau Pertamina mau 100 persen, mau 50 persen, silahkan. Masalah lainnya (perusahaan China-nya) siapa, ya b-to-b saja," terangnya.
Sebelumnya, pemerintah menargetkan bahwa rekan Pertamina dalam menggarap Kilang Bontang harus ditetapkan pada tahun ini agar penyelesaian pembangunan kilang tetap sesuai dengan target yang telah ditentukan, yaitu pada 2023 mendatang.
Sementara bila telah beroperasi, Kilang Bontang diperkirakan akan berkapasitas sekitar 300 ribu barel per hari dengan investasi total mencapai US$8 miliar. (agi)