Direktur Strategi dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Scenaider Siahaan mengungkapkan, pemerintah perlu mengantisipasi pembiayaan anggaran jelang meningkatnya belanja K/L.
Apalagi, pemerintah agak khawatir mengandalkan penerimaan pajak untuk membayar belanja, mengingat penerimaan pajak masuk hanya di tanggal-tanggal tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pun demikian, Scenaider mengatakan, saat ini, defisit APBN masih dapat dijaga dengan baik. Dari target deifisit APBNP 2017 sebesar 2,67 persen, realisasinya per September tercatat 2,02 persen.
Ia meyakini, pembiayaan eksternal juga masih mumpuni untuk menopang belanja hingga akhir tahun, meskipun pembiayaan dari Obligasi Ritel Indonesia seri 014 (ORI014) yang ditawarkan September lalu masih berada di bawah target indikatif.
Sekadar informasi, penerbitan ORI 014 hanya mampu menambah pundi negara sebesar Rp8,9 triliun atau masih jauh dari target indikatifnya, yakni Rp20 triliun.
Selain itu, Scenaider bilang bahwa pemantauan defsiit ini nantinya menghasilkan keputusan terkait pemerintah bisa melakukan pendanaan awal untuk anggaran tahun 2018 atau pre-funding. “Nanti keputusannya dilihat berdasarkan kondisi menjelang akhir tahun,” pungkasnya.
Sebagai informasi, target penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) tahun ini tercatat Rp712,9 triliun. Sementara itu, pembiayaan defisit melalui SBN dipatok Rp433 triliun di dalam APBNP 2017, di mana realisasinya hingga Agustus kemarin mencapai Rp346,9 triliun. (bir)