Penataan ulang model bisnis dilakukan karena investor memiliki sudut pandang bahwa manajer aset tidak memberikan nilai tambah kepada investasinya, meski investor telah membayar jasa manajer aset.
Ini membuat bisnis manajemen aset makin rapuh dan membuka peluang bagi perusahaan teknologi untuk merangsek masuk ke ranah manajemen aset.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara kerjanya, Yu’e Bao menawarkan pengguna Alipay untuk bisa menanamkan modal tanpa harus mencari dana di bank dan kartu kredit. Dalam jangka empat tahun, Yu’e Bao kini menjadi pasar uang terbesar di dunia dengan 260 juta pengguna dan aset kelolaan mencapai 1,43 juta Renminbi.
Di samping itu, kini bisnis manajemen aset juga mengutamakan hubungan yang baik dengan klien. Sementara itu, perusahaan teknologi yang berbasis pengguna memiliki manfaat tersebut, mengingat perusahaan teknologi rata-rata sudah menyimpan data penggunanya. Ini bisa menjadi keunggulan tersendiri dibanding SDM yang menggeluti profesi sebagai manajer aset.
“Beberapa firma teknologi asal Amerika Serikat bisa menjadi kandidat terkuat untuk merambah sektor manajemen aset. Amazon, Google, Apple, dan Facebook punya keunggulan di distribusi melalui data pengguna dan analisis yang maju,” paparnya.
Sehingga, akan jarang ada perusahaan teknologi yang menggarap bisnis manajemen aset hanya untuk mencari pendapatan komisi saja. “Mungkin, masuknya perusahaan itu ke ranah manajemen aset hanya sebagai pelengkap inti bisnis mereka,” pungkasnya.
Makanya, Moody’s menyarankan bahwa pekerja di sektor manajemen aset harus bersiap diri menghadapi infiltrasi digital ini. Apalagi, beberapa perusahaan, seperti Fidelity dan BlackRock sudah berinvestasi di dalam pemanfaatan teknologi dalam menawarkan produknya ke klien. (bir)