Indonesia-Malaysia Kebut Aturan Perdagangan Lintas Batas

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Jumat, 24/11/2017 16:06 WIB
Indonesia-Malaysia Kebut Aturan Perdagangan Lintas Batas Kedua negara sepakat mendorong penyelesaian perundingan tersebut segera setelah negosiasi perjanjian perlintasan perbatasan (Border Crosssing Agreement/BCA). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia dan Malaysia sepakat untuk membentuk payung hukum demi mengatur perdagangan lintas batas. Hal itu dilakukan demi menjamin keperluan penduduk di perbatasan.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan, kedua negara telah bertemu untuk membahas berbagai isu dalam pertemuan Konsultasi Tahunan (Annual Consultation) Indonesia-Malaysia ke-12 yang berlangsung Rabu (22/11) di Kuching, Malaysia.

“Perdagangan merupakan isu penting yang selalu dibahas dalam setiap Konsultasi Tahunan kedua kepala negara karena berperan penting dalam memajukan kerja sama ekonomi Indonesia-Malaysia," ujar Enggar dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (24/11).



Enggar menyebut, ada empat isu yang dibahas pada pertemuan itu. Hal itu antara lain perjanjian perdagangan lintas batas (Border Trade Agreement/BTA), normalisasi perdagangan ekspor dan impor lewat Entikong Tebedu, kerja sama di sektor produk halal, serta kerja sama di bidang kelapa sawit.

Terkait BTA, Enggar mengaku kedua negara sepakat mendorong penyelesaian perundingan tersebut segera setelah negosiasi perjanjian perlintasan perbatasan (Border Crosssing Agreement/BCA) yang menentukan titik lintas batas ditandatangani awal tahun depan.

Sebelumnya, Enggar menyatakan telah bertemu dengan Menteri Perdagangan Internasional dan Industri (MITI) Malaysia Dato' Sri Mustapa Mohamed untuk membahas penyelesaian perundingan BTA ini.

“BTA akan memberi payung dan kepastian hukum bagi kedua negara dalam melakukan perdagangan lintas batas. Dengan begitu, keperluan penduduk di perbatasan dapat dijamin karena hal ini merupakan kewajiban kedua negara,” imbuh Enggar.

Terkait normalisasi perdagangan di pintu Entikong-Tebedu, menurutnya telah terdapat kemajuan sejak Juli lalu ketika Mendag Enggar dan Menteri Mustapa mengunjungi pos lintas batas Entikong-Tebedu.

Indonesia-Malaysia Sepakat Atur Perdagangan Lintas Batas(CNN Indonesia/Hesti Rika)

Kedua pihak, kata Enggar, sekarang menunggu realisasi penyelesaian satu infrastruktur pemotongan bukit di wilayah Malaysia antara jalur kargo pelabuhan daratan (dry port) Entikong-Tebedu.

“Secara pararel kami sepakat melakukan sebuah kajian bersama agar nanti ketika kegiatan perdagangan ekspor-impor normal kembali, Provinsi Kalimantan Barat dan Negeri Serawak dapat menerima manfaat yang maksimal. Kajian bersama tersebut akan ditindaklanjuti di tingkat senior official's meeting (SOM) secara teknis,” tandasnya.

Mengenai sawit, Enggar menekankan kedua negara menyampaikan pernyataan bersama yang cukup tegas terkait praktik diskriminasi yang dilakukan para mitra dagang.

“Di tengah isu dikriminasi dan kampanye negatif terhadap produk sawit, kedua negara sepakat untuk saling bekerja sama sama menanggapi perlakuan tidak adil terhadap produk sawit, termasuk menanggapi laporan Parlemen Eropa mengenai Resolution on Palm Oil and Deforestation of the Rainforest,” tegasnya.


Mengenai isu produk halal, setelah pertemuan Joint Trade and Investment Committee (JTIC) Indonesia-Malaysia bulan Juli 2017 lalu di Kuching, Malaysia, kedua negara sepakat untuk mendorong penyelesaian nota kesepahaman antara badan otoritas halal.

“Kedua kepala negara memberi mandat agar nota kesepahaman dapat segera diselesaikan. Kami akan mengawal agar Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) selaku otoritas penyelenggara jaminan produk halal dapat melakukan Mutual Recognition Agreement (MRA) sehingga produk dan logo halal kedua negara dapat saling diterima di pasar masing-masing," imbuh Enggar.

Kerja sama dalam hal produk dan logo halal ini diharapkan dapat mendorong pengembangan industri produk halal di Indonesia, mengingat prospek perdagangannya yang sangat besar saat ini. (gir/gir)