PLN Jamin Listrik di Bali Aman Usai Erupsi Gunung Agung

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 28/11/2017 16:13 WIB
PLN Jamin Listrik di Bali Aman Usai Erupsi Gunung Agung PLN mengaku telah mengantisipasi apabila terjadi letusan Gunung Agung yang lebih besar, sesuai SOP perseroan. Salah satunya, genset di 13 titik yang terdampak. (ANTARA FOTO/Zainuddin MN).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT PLN (Persero) memastikan kondisi listrik aman di daerah yang terdampak erupsi Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali, hingga hari ini, Selasa (28/11).

"Sementara ini belum ada gangguan. Operasional masih lancar, belum ada pemadaman dari Karangasem," ujar Humas PLN Distribusi Bali Putra DM kepada CNNIndonesia.com.

Putra mengungkapkan, perseroan telah siap mengantisipasi bila terjadi letusan Gunung Agung yang lebih besar. Hal itu sesuai Standard Operational Procedure (SOP) yang dianut perseroan.


"Kami sudah mempersiapkan genset di titik-titik yang memang akan terisolasi seandainya (letusan) itu terjadi," katanya.

Setidaknya, lanjut Putra, ada tiga belas titik di Bali yang akan terisolasi jika ada letusan besar dari gunung berapi itu.

Menurutnya, saat terjadi erupsi memang jaringan listrik di area sekitar Gunung Agung akan padam. Namun, itu terjadi hanya sebentar.

"Kalau kami hidupkan sekali lagi dan menyala dengan baik, berarti kondisinya aman," jelasnya.

Jika terjadi hubungan pendek arus listrik atau korsleting di area yang terdampak, pihaknya akan langsung bertindak agar dampaknya tidak menyebar ke area lain.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat erupsi Gunung Agung terus berlangsung dan saat ini masih berstatus awas (level IV).

Otoritas Bandara Wilayah IV Bali Nusra telah memperpanjang penutupan Bandara Bandara Internasiopnal I Gusti Ngurah Rai. Bandara ditutup hingga 29 November 2017, pukul 07 WITA.

Evaluasi akan dilakukan per 6 jam. Sementara itu, Bandara Internasional Lombok dibuka kembali mulai hari ini pada pukul 06 WITA, setelah sebelumnya mengalami penutupan.

"Masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di dalam radius 8 km dari kawah Gunung Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah Gunung Agung," terang Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya.

BNPB mencatat ada 22 desa yang terdapat dalam zona berbahaya. Jumlah penduduk yang tinggal di dalam zona berbahaya tersebut diperkirakan 90.000 – 100.000 jiwa. Tidak ada data yang valid dari berbagai sumber menyulitkan petugas dalam menghitung jumlah penduduk yang harus mengungsi.

Data sementara, jumlah penduduk 29.023 jiwa yang tersebar di 217 titik pengungsian. Belum semua data pengungsi tercatat oleh petugas. Selain di Bali, masyarakat juga mengungsi ke Lombok. Gubernur Bali telah mengimbau agar masyarakat mengungsi di sekitar Kabupaten Karangasem.

Sutopo menuturkan, tidak semua masyarakat yang berada di radius berbahaya bersedia mengungsi. Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang tetap tinggal di dalam rumahnya.

Ada berbagai alasan yang menyebabkan mereka enggan mengungsi, seperti alasan masih merasa aman meski Gunung Agung sudah erupsi, alasan menjaga ternak dan kebun, alasan kepercayaan, dan lainnya. Petugas masih terus membujuk masyarakat untuk mengungsi dan membantu pengungsian ternak.

Secara umum, kata Sutopo, penanganan pengungsi berlangsung dengan baik. Pasalnya, pengalaman sebelumnya saat Gunung Agung dinyatakan Status Awas pertama kali pada Rabu (22/9) pukul 20.30 WITA dan sosialisasi intensif mengenai antisipasi menghadapi erupsi menyebabkan masyarakat sudah lebih siap. (bir)