Namun, lewat surat bernomor S-665/MBU/11/2017, Menteri BUMN Rini Soemarno malah mengusulkan agar operator kereta api pelat merah itu tak lagi menjadi penyelenggara pendanaan pembangunan LRT Jabodebek.
Rini melalui surat yang dilayangkan ke Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi tertanggal 20 November 2017 itu menyarankan KAI hanya menjadi penyelenggaran dan pengoperasi sarana LRT, karena kekhawatiran membengkaknya anggaran proyek dari Rp26,7 triliun menjadi Rp31,8 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian BUMN mengusulkan KAI tak lagi jadi investor, operator, dan pemegang konsesi proyek LRT Jabodebek karena kenaikan nilai proyek LRT berpotensi mengganggu neraca keuangan perseroan. (ANTARA FOTO/Feny Selly). |
Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan, usulan sang menteri yang mengusulkan KAI tak lagi jadi investor, operator, dan pemegang konsesi proyek karena kenaikan nilai proyek LRT berpotensi mengganggu neraca keuangan perseroan.
Sementara, sisanya Rp17,6 triliun berasal dari sindikasi perbankan kepada penyelenggara proyek, dalam hal ini KAI. Nah, jika anggaran bengkak, maka porsi pinjaman akan ikut membengkak. Konsekuensinya, sebagai penyelenggara proyek, KAI akan menanggung tambahan utang.
Sementara, ekuitas perusahaan cuma tercatat sebesar Rp9,7 triliun atau naik 6,9 persen secara tahunan. Ekuitas tersebut didominasi oleh modal saham sebesar Rp5,3 triliun, naik Rp2 triliun secara tahunan. Selain itu, total ekuitas juga ditopang oleh saldo laba perusahaan yang tercatat Rp3,05 triliun.
Dengan kondisi demikian, rasio utang terhadap modal perseroan (DER) hingga akhir tahun lalu akan mencapai 1,59 kali. Rasio itu akan semakin membengkak setelah perseroan menarik pinjaman demi pembangunan LRT.
Dengan asumsi modal bertambah Rp7,6 triliun, tambahan pinjaman untuk LRT sebesar Rp17,6 triliun akan membuat DER perusahaan menjadi 1,9 kali.
Apabila anggaran proyek membengkak menjadi Rp31,8 triliun dan penambahan anggaran dibiayai oleh pinjaman, maka DER perusahaan menjadi 2,2 kali.
Adapun, ekuitas Adhi Karya tercatat Rp5,4 triliun hingga akhir tahun lalu dengan total utang mencapai Rp14,65 triliun. Artinya, DER perseroan sudah mencapai 2,71 kali. Jika perseroan mendapatkan tambahan utang lagi dari proyek LRT, maka DER perseroan bisa semakin membengkak dan neraca perseroan semakin terbebani.
Tahun lalu, perusahaan konstruksi pelat merah tersebut mencetak laba bersih sebesar Rp315,12 miliar atau melorot 32,23 persen dari periode tahun sebelumnya, yaitu Rp465,02 miliar.
Lihat juga:KAI Hitung Ulang Belanja Modal LRT Jabodebek |
Jangan sampai, penambahan beban pada neraca kedua perseroan mengganggu terlaksananya proyek lain yang pada akhirnya mengganggu pelayanan kepada masyarakat. (bir)
Kementerian BUMN mengusulkan KAI tak lagi jadi investor, operator, dan pemegang konsesi proyek LRT Jabodebek karena kenaikan nilai proyek LRT berpotensi mengganggu neraca keuangan perseroan. (ANTARA FOTO/Feny Selly).