PLN Niat 'Berutang' Demi Belanja Modal Rp100 T di 2018

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 29/11/2017 20:20 WIB
PLN Niat 'Berutang' Demi Belanja Modal Rp100 T di 2018 Pendanaan akan berasal dari penerbitan obligasi, pinjaman perbankan, hingga pinjaman melalui Export Credit Agency (ECA). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT PLN (Persero) tengah berancang-ancang untuk kembali mencari pendanaan eksternal demi mendanai kebutuhan belanja modal sebesar Rp100 triliun di tahun depan. Sebagian besar belanja modal ditujukan untuk melanjutkan program listrik 35 ribu Megawatt (MW).

Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan, sampai sejauh ini, perusahaan melihat sebanyak Rp30 triliun hingga Rp50 triliun dari kebutuhan belanja modal akan berasal dari dana eksternal. Artinya, porsi pinjaman dalam investasi PLN ke depan berkisar 30 persen hingga 50 persen.

Angka tersebut masih akan disesuaikan kembali dengan mempertimbangkan posisi kas internal perusahaan di akhir tahun nanti. “Kami punya investasi yang cukup besar, sebagian dari angka itu bisa didapatkan (pendanaannya) melalui fund raising,” ujar Sarwono, Rabu (29/11).


Tambahan dana juga bisa didapatkan dari penerbitan obligasi baik global maupun lokal, pinjaman perbankan, hingga pinjaman melalui Export Credit Agency (ECA).

Selain itu, PLN juga akan kembali menerbitkan Kredit Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) atas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya yang sebelumnya telah ditawarkan ke investor dan tercatat oversubscribe alias kelebihan permintaan sebanyak 2,7 kali pada September silam.

“Untuk penerbitan KIK EBA kan kami targetkan Rp10 triliun, sudah dilepas ke pasar Rp4 triliun. Masih ada sisa Rp6 triliun yang bisa dilepas meski kemarin kami mencatatkan oversubscribe,” terang dia.

Meski demikian, bukan berarti PLN akan menggunakan sumber-sumber dana eksternal ini seluruhnya. Tentu saja, opsi-opsi ini akan dipilih jika sifatnya dana murah. Di samping itu, ia bilang, keuangan PLN masih dalam kondisi yang baik karena tidak ada utang jatuh tempo tahun depan dan sebagian besar pinjaman serta surat utang sudah disesuaikan profil pinjaman jatuh temponya (reprofiling).

Dengan reprofiling, PLN berharap bisa menurunkan beban bunga Rp1,2 triliun per tahun dari sebelumnya Rp18,28 triliun di 2016.

“Kami kemarin sudah lakukan reprofiling dalam jumlah besar. Tahun depan mungkin ada reprofiling, tapi mungkin nilainya juga tidak besar,” ujarnya.

Apalagi, sepanjang tahun ini, sebagian besar belanja modal disumbang dari kas internal. Dari total realisasi belanja modal hingga September mencapai Rp150 triliun, di antaranya Rp90 triliun disediakan dari kocek perusahaan.

“Artinya apa, utang hanya Rp60 triliun. Lebih kecil dari kas internalnya,” pungkas Sarwono.

Mengutip laporan keuangan per September 2017, liabilitas perseroan tercatat Rp429,32 triliun atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya Rp393,77 triliun. (bir)