Kesalahan Mengatur Keuangan yang Sering Dilakukan Millennial

Agustiyanti, CNN Indonesia | Sabtu, 09/12/2017 08:59 WIB
Kesalahan Mengatur Keuangan yang Sering Dilakukan Millennial Pengeluaran berlebihan untuk sewa tempat tinggal, hingga hubungan cinta yang menguras keuangan menjadi kesalahan generasi millennial dalam mengatur keuangan. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menabung mungkin menjadi hal yang sulit dilakukan oleh generasi millennial. Kebutuhan menunjang gaya hidup supaya tidak ketinggalan zaman ditambah gaji yang masih pas-pasan karena baru mulai bekerja menjadi penyebabnya.

Hasil riset yang dilakukan George Washington Global Financial Literacy Excellence Center terhadap 5.500 millenials, bahkan menunjukkan bahwa hanya 24 persen yang mengerti prinsip dasar keuangan.

"Literasi keuangan memang tidak diajarkan di sekolah dan kampus jadi bukan bagian dari pendidikan keseharian kita. Sehingga ketika memasuki fase mulai membayar segala sesuatunya sendiri, kita tidak punya strategi yang tepat," ujar Alexa Von Tobel, pengarang buku Financially Fearless, dikutip dari siaran pers yang dirilis DBS Indonesia, Sabtu (9/12).

Berikut lima kesalahan yang sering dilakukan generasi millennial dalam mengelola keuangan.

1. Pengeluaran berlebihan untuk biaya sewa tempat tinggal
Adanya alasan efisiensi dan kenyamanan, membuat banyak millennial yang memilih tinggal sendiri dekat area kantornya. Tapi menurut studi yang diterbitkan Personality and Social Psychology Bulletin, kita cenderung melebih-lebihkan kebahagiaan yang kita dapat dari hal material. Jadi, mengeluarkan lebih dari 30 persen pendapatan untuk menyewa tempat tinggal adalah suatu kesalahan yang seharusnya bisa dihindari.


Menurut Alexa Von Tobel, uang sewa tempat tinggal, belanja kebutuhan sehari-hari, bayar tagihan listrik, air dan transportasi harus masuk dalam 50 persen dari pendapatan. Dengan demikian, jika tetap ingin menganggarkan uang sewa apartemen atau kost sebesar, misalnya 40 persen dari pendapatan, maka cari pos pengeluaran lain sejumlah 10 persen pendapatan yang harus dihilangkan, seperti keanggotaan di pusat kebugaran atau langganan televisi berbayar. 

2. Tidak punya dana darurat
Dana darurat adalah dana yang perlu disiapkan sebagai cadangan bila ada keperluan mendadak, seperti jatuh sakit, membantu orangtua atau perusahaan tempat bekerja tutup beroperasi.

Idealnya dana darurat merupakan 3-6 bulan biaya hidup yang dibutuhkan. Biaya hidup dihitung dari rata-rata uang yang dibutuhkan untuk keperluan makan, transportasi, belanja kebutuhan pokok, biaya sewa tempat tinggal, bayar utang atau tagihan rutin.

Dana darurat bisa dikumpulkan dengan mencicil tiap bulan melalui 20 persen dari pendapatan.

3. Utang kartu kredit yang berlebihan
Hampir semua orang pada dasarnya memiliki utang. Tapi utang kartu kredit adalah yang paling beracun karena tingginya bunga yang diberikan.

Selain itu, jika sering over limit atau tidak tepat waktu membayar kartu kredit, maka ini menjadi catatan yang kurang baik di masa depan bila ingin mengajukan kredit lain. Rencana KPR dan permohonan pinjam modal wirausaha mungkin gagal ketikan diajukan ke bank.

4. Berada dalam hubungan cinta yang menguras keuangan
Biaya gaya hidup tidak cuma dihabiskan sendirian. Saat menjalin hubungan cinta, kita juga terkadang mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi bila pasangan tidak memiliki pendapatan sebesar kita. Namun, perlu diwaspadai kalau ternyata setelah bersama sekian lama, tidak ada perkembangan signifikan dari pendapatannya. Jangan sampai, kita terus yang mengeluarkan uang demi kepentingan bersama.

5. Tidak menabung untuk masa pensiun
Generasi millenial mungkin berpikir masa pensiun masih dua puluhan tahun lagi, jadi buat apa menyisihkan uang dari sekarang? Padahal, itu adalah sebuah kesalahan besar. Padahal, usia 25 tahun sebenarnya merupakan waktu yang tepat untuk mulai menyisihkan uang pensiun. Dengan demikian, ketika berusia 60 tahun, uang pensiun yang dimiliki dua kali lipat lebih banyak dari mereka yang baru mulai menyisihkan uang pensiun di usia 35 tahun.

Head of Digital Banking Bank DBS Indonesia menjelaskan, kesalahan para millennial dalam pengelolaan keuangan dapat dimaklumi karena hal ini bukan sesuatu yang mudah bagi mereka karena laporan lengkap transaksi rekening harus diakses melalui desktop atau cetak buku tabungan.

"Bagi para millennial yang biasa melakukan segala sesuatu melalui ponsel, hal ini menjadi sangat menganggu. Tapi semua itu bisa diatasi dengan hadirnya cara baru beraktivitas perbankan berbasis digital," terang Leo. (agi/agi)